Membaca kembali sejenak sebuah kutipan indah:
......Dalam usahanya membuat kita tegak dan bisa itu, ayah mungkin tampak kaku di mata kita. Ia yang menganggap bahwa kita harus terus belajar berdiri sendiri, kadang tidak mau memberitahu kita apa yang harus kita lakukan, melainkan ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Dan rasa tidak setuju itulah yang kadang salah artikan.
Jika kita seorang anak perempuan, misalnya, mungkin persetujuannya atas lelaki yang datang melamar kita begitu rumit. Orang yang sudah kita anggap baik dan terlanjur kita sukai, belum tentu disetujui oleh ayah. Ayah melakukan itu, bukan karena dia tidak bisa memahami hati dan perasaan anaknya. Tidak. Tapi karena dia harus memastikan mampukah anaknya tegak dan bisa bersama laki-laki itu atau tidak. Cinta dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, mengharuskannya untuk bersikap selektif dan berhati-hati. Barangkali inilah salah satu alasan Imam Asy Syafi'i yang membolehkan seorang ayah menentukan pilihan untuk putrinya, siapa lelaki calon suaminya. Karena ayah tahu bahwa lelaki itulah kelak yang akan menggantikan posisinya sebagai pembimbing dan pemimpin. Maka sangat wajar jika berkecamuk di dalam hatinya rasa khawatir dan harap, takut dan pasrah.
Seorang ayah menasehati anaknya, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas, janganlah mencarinya di pasar apalagi di tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besi. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidup, jika kau ingin mendapatkan cinta sejati, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakan."
Kepada kita anak lelakinya, ayah berpesan. Mungkin bila dinarasikan, ia akan berkata, "Jadilah lebih kuat dan tegar dari aku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang telah aku beri padamu."
Kepada kita, anak gadisnya, ayah berpesan. Dengan kosakata yang minim dan itu-itu saja, sebenarnya pesan panjangnya jelas, "Jangan cengeng meski kamu seorang perempuan, jadilah selalu bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak: laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan ayah. Tapi jangan pernah kau gantikan posisi ayah di hatimu."
Ayah kita selalu bersikeras, bahwa kita, anak-anaknya, kelak harus bersikap lebih baik daripada kita yang dulu. Ayah membuat kita percaya diri, dengan cara percaya pada kita. Ayah kita mungkin bukan orang yang terbaik, tapi pasti dia selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk kita. Mengajari kita mengenali Allah dan mengenali cintaNya.
Dalam pesan-pesannya yang itu-itu saja, dalam doanya yang pendek untuk kita, ayah kita hanya ingin memastikan, bahwa kita telah ia titipkan kepada Dzat yang Maha Menjaga. Semua ia lakukan, untuk melengkapi apa yang telah ia berikan, untuk membuat kita tegak dan bisa.
Dikutip dari: Majalah Tarbawi "Ayah yang Melepas Kita untuk Membuat Kita Tegak dan Bisa" oleh Sultan Hadi.
Air mataku jatuh setetes demi setetes tiap kali membaca kutipan indah ini. Tidak hanya karena isinya yang menyentuh tapi karena ingatanku selalu terekam kembali dengan bapak. Walaupun hanya diberi kebersamaan kurang lebih 8 tahun lebih 9 bulan oleh Allah bersama beliau, tak mengurangi kenangan indah bersama beliau. :') Kenangan yang berhasil membawa dan menjadikanku lebih kuat dan dewasa. Ya, karena aku harus membiasakan sendiri mencari ajaran-ajaran hidup seperti yang biasa bapak berikan dulu kepadaku.
Bagiku memang kadang juga nelangsa kalau melihat anak yang berboncengan dengan bapaknya diantar atau dijemput ke sekolah. Di saat jiwa ini berontak karena rindu akan kasih sayang dari seorang bapak, namun pada kenyataannya kehidupan mengajarkan kepadaku untuk tidak boleh cengeng dan manja,, Berangkat dan pulang sekolah tidak lagi ada yang menunggu di depan sekolah, tidak ada yang menjemput, kemana-mana harus sendiri (naik angkot). Apakah aku menjadi tidak ikhlas? Tidak sama sekali. Aku ikhlas insyaAllah. Aku yakin akan rencana Allah pada setiap potongan babak kehidupanku. Semoga Allah menyayangi bapakku dan kelak dapat mempertemukan dengannya lagi..:')
Pun ketika pulang ke rumah ibu, aku masih merasakan setiap sudut rumah dimana aku biasanya bercengkerama dengan bapak. Tak kan ada yang pernah berubah. Bapakku persis seperti yang digambarkan pada paragraf pertama kutipan di atas. Selalu mengkhawatirkan dan kaku pada anak-anaknya. Jadi ingat dulu, aku susah sekali untuk tidur siang karena aku inginnya main dengan teman-teman. Bayangkan saja, dari luar rumah biasanya teman-teman sebaya sudah memanggilku untuk bermain, tetapi malah bapak bersikeras agar aku tidur siang. Alhasil aku tidak bisa main, aku paksakan tidur dengan perasaan yang beraaat sekali. Sedangkan bapak terus berdiri di depan pintu kamar mengawasi hingga aku benar-benar tidur..hehehe.
Ah, bapak. Bagiku engkau sosok yang selalu ada. Aku menyadari bahwa sebagian kecil atau sebagian besar malah, sifat dan kelakuanku, mirip denganmu. Sifatku yang kata teman-temanku sedikit OCD, entahlah ini guyon apa kenyataan, tapi kurasa ini mirip dengan bapakku. Apapun itu...dengarlah bapak...aku menyayangimu. :')
......Dalam usahanya membuat kita tegak dan bisa itu, ayah mungkin tampak kaku di mata kita. Ia yang menganggap bahwa kita harus terus belajar berdiri sendiri, kadang tidak mau memberitahu kita apa yang harus kita lakukan, melainkan ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Dan rasa tidak setuju itulah yang kadang salah artikan.
Jika kita seorang anak perempuan, misalnya, mungkin persetujuannya atas lelaki yang datang melamar kita begitu rumit. Orang yang sudah kita anggap baik dan terlanjur kita sukai, belum tentu disetujui oleh ayah. Ayah melakukan itu, bukan karena dia tidak bisa memahami hati dan perasaan anaknya. Tidak. Tapi karena dia harus memastikan mampukah anaknya tegak dan bisa bersama laki-laki itu atau tidak. Cinta dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, mengharuskannya untuk bersikap selektif dan berhati-hati. Barangkali inilah salah satu alasan Imam Asy Syafi'i yang membolehkan seorang ayah menentukan pilihan untuk putrinya, siapa lelaki calon suaminya. Karena ayah tahu bahwa lelaki itulah kelak yang akan menggantikan posisinya sebagai pembimbing dan pemimpin. Maka sangat wajar jika berkecamuk di dalam hatinya rasa khawatir dan harap, takut dan pasrah.
Seorang ayah menasehati anaknya, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas, janganlah mencarinya di pasar apalagi di tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besi. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidup, jika kau ingin mendapatkan cinta sejati, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakan."
Kepada kita anak lelakinya, ayah berpesan. Mungkin bila dinarasikan, ia akan berkata, "Jadilah lebih kuat dan tegar dari aku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang telah aku beri padamu."
Kepada kita, anak gadisnya, ayah berpesan. Dengan kosakata yang minim dan itu-itu saja, sebenarnya pesan panjangnya jelas, "Jangan cengeng meski kamu seorang perempuan, jadilah selalu bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak: laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan ayah. Tapi jangan pernah kau gantikan posisi ayah di hatimu."
Ayah kita selalu bersikeras, bahwa kita, anak-anaknya, kelak harus bersikap lebih baik daripada kita yang dulu. Ayah membuat kita percaya diri, dengan cara percaya pada kita. Ayah kita mungkin bukan orang yang terbaik, tapi pasti dia selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk kita. Mengajari kita mengenali Allah dan mengenali cintaNya.
Dalam pesan-pesannya yang itu-itu saja, dalam doanya yang pendek untuk kita, ayah kita hanya ingin memastikan, bahwa kita telah ia titipkan kepada Dzat yang Maha Menjaga. Semua ia lakukan, untuk melengkapi apa yang telah ia berikan, untuk membuat kita tegak dan bisa.
Dikutip dari: Majalah Tarbawi "Ayah yang Melepas Kita untuk Membuat Kita Tegak dan Bisa" oleh Sultan Hadi.
Air mataku jatuh setetes demi setetes tiap kali membaca kutipan indah ini. Tidak hanya karena isinya yang menyentuh tapi karena ingatanku selalu terekam kembali dengan bapak. Walaupun hanya diberi kebersamaan kurang lebih 8 tahun lebih 9 bulan oleh Allah bersama beliau, tak mengurangi kenangan indah bersama beliau. :') Kenangan yang berhasil membawa dan menjadikanku lebih kuat dan dewasa. Ya, karena aku harus membiasakan sendiri mencari ajaran-ajaran hidup seperti yang biasa bapak berikan dulu kepadaku.
Bagiku memang kadang juga nelangsa kalau melihat anak yang berboncengan dengan bapaknya diantar atau dijemput ke sekolah. Di saat jiwa ini berontak karena rindu akan kasih sayang dari seorang bapak, namun pada kenyataannya kehidupan mengajarkan kepadaku untuk tidak boleh cengeng dan manja,, Berangkat dan pulang sekolah tidak lagi ada yang menunggu di depan sekolah, tidak ada yang menjemput, kemana-mana harus sendiri (naik angkot). Apakah aku menjadi tidak ikhlas? Tidak sama sekali. Aku ikhlas insyaAllah. Aku yakin akan rencana Allah pada setiap potongan babak kehidupanku. Semoga Allah menyayangi bapakku dan kelak dapat mempertemukan dengannya lagi..:')
Pun ketika pulang ke rumah ibu, aku masih merasakan setiap sudut rumah dimana aku biasanya bercengkerama dengan bapak. Tak kan ada yang pernah berubah. Bapakku persis seperti yang digambarkan pada paragraf pertama kutipan di atas. Selalu mengkhawatirkan dan kaku pada anak-anaknya. Jadi ingat dulu, aku susah sekali untuk tidur siang karena aku inginnya main dengan teman-teman. Bayangkan saja, dari luar rumah biasanya teman-teman sebaya sudah memanggilku untuk bermain, tetapi malah bapak bersikeras agar aku tidur siang. Alhasil aku tidak bisa main, aku paksakan tidur dengan perasaan yang beraaat sekali. Sedangkan bapak terus berdiri di depan pintu kamar mengawasi hingga aku benar-benar tidur..hehehe.
Ah, bapak. Bagiku engkau sosok yang selalu ada. Aku menyadari bahwa sebagian kecil atau sebagian besar malah, sifat dan kelakuanku, mirip denganmu. Sifatku yang kata teman-temanku sedikit OCD, entahlah ini guyon apa kenyataan, tapi kurasa ini mirip dengan bapakku. Apapun itu...dengarlah bapak...aku menyayangimu. :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar