Minggu, 16 Mei 2010

Salmonella thypi

Sifat Umum
Genus Salmonella terdapat pada usus manusia, binatang, dan unggas. Berbentuk batang gram negatif, berukuran 2 sampai 4u x 0,6u, bergerak (kecuali Salmonella gallinarum dan Salmonella pullorum), mempunyai flagel peritrik. Samonella bersifat aerob dan anerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 370 C dan pH optimum 6-8. Salmonella tumbuh dengan mudah dalam media yang sederhana, tetapi hampir tidak dapat memfermentasikan laktosa dan sukrosa. Salmonella membentuk asam dan kadangkala gas dari fermentasi glukosa dan mannosa. Salmonella tidak menghidrolisis urea dan membentuk H2S. Kuman ini bertahan dari pendinginan dalam waktu yang lama. Salmonella peka terhadap Chlorampenicol, tetapi resistan pada beberapa bahan kimia (contoh hijau brilliant, sodium tetrathionat, sodium deoxycholat) yang menghibisi beberapa bakteri usus.
Sifat Khusus
Salmonella thypi adalah bakteri gram negatif yang termasuk family dari Enterobacteriaceae. Bersifat motil, anaerob fakultatif dan sensitif terhadap beberapa antibiotik. Ada 107 strain dari organisme ini yang telah berhasil diisolasi, beberapa diantaranya menunjukkan keanekaragaman karakteristik sistem metabolisme, level virulensi, dan prevalensi dari gen yang mengkode multi drug resistensi. Identifikasi dalam menentukan diagnostik dapat dilakukan dengan menanam pada media Mac Conkey dan EMB agar, dan bakteri ini sama sekali tidak memfermentasikan laktosa. Salmonella thypi hanya menghasilkan asam tanpa menghasilkan gas saat ditanam di media TSI, yang mana media ini sering digunakan untuk membedakan Salmonella thypi dengan Enterobacteraceae lainnya.


Patogenesis
Penularan terjadi melalui mulut, yaitu melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman Salmonella thypi. Kuman ini masuk ke dalam tubuh melalui jaringan getah bening faring. Di dalam usus kuman ini melekatkan diri pada sel-sel epitel villi usus dan menembus lamina propia dan submukosa. Kuman-kuman ini difagosit oleh leukosit tembereng (polimorf) atau makrofag, lalu memasuki kelenjar getah bening usus dan berkembang biak di tempat itu, kemudian memasuki ductus thoracicus.
Akibatnya tejadilah bakteremia dan kuman-kuman tersebut lalu bersarang pada hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, kelenjar getah bening, paru-paru, ginjal dan lain-lain. Pada alat-alat tubuh ini kuman tersebut berkembang biak lebih lanjut. Jadi pada saat terjadi bakteremia mulailah timbul gejala-gejala. Kuman-kuman ini menyerang jaringan misalnya Plaque payeri dan folikel-folikel getah bening usus halus. Kelainan-kelainan pada usus menjadi tukak dan berdarah sehingga mungkin menyebabkan perforasi usus.
Kuman-kuman yang lisis mengeluarkan endotoksin yang menimbulkan gejala-gejala toksis misalnya sakit kepala, tidak nafsu makan, demam yang menetap, dan pembengkakan selaput lendir. Masa inkubasi berkisar antara 10 sampai 14 hari. Gambaran yang khas ialah demam yang kurvanya seperti anak tangga, limpa teraba membesar, dan bintik-bintik merah (“rose spots”) yang hilang jika ditekan dan timbul pada minggu sakit ke-2 dan ke-3.
Faktor-Faktor Patogenisitas
a. Kapsul
Salmonella thypi mempunyai kapsul yang mengandung antigen permukaan atau antigen Vi (virulensi). Antigen ini bersifat termolabil. Vaksin yang mengandung antigen Vi bersifat melindungi untuk melawan tifoid.
b. Lipopolisakarida
Salmonella thypi merupakan salahsatu anggota bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif mempunyai lapisan lipopolisakrida yang bertindak sebagai antigen dan terletak pada membran luar bakteri. Molekul lipopolisakarida terdiri dari lipid A dan inti oligosakarida, serta suatu antigen ’O’ polisakarida yang lurus panjang atau bercabang. Antigen ‘O’ berperan dalam resistensi terhadap aktivitas bakterisidal komplemen. Inti lipid A menstimulasi makrofag pejamu untuk memproduksi sitokin, seperti interleukin-1 dan TNF yang berperan dalam kejadian demam, syok, dan asidosis metabolik yang berhubungan dengan sepsis berat.
c. Fimbria
Fimbria atau pili merupakan organel bakteri yang memungkinkan perlekatan ke sel pejamu dan penting dalam memacu terjadinya kolonisasi ketika kuman ini berpindah tempat hidup.
d. Pertukaran Genetik
Enterobactericeae dapat memperoleh DNA secara cepat dari organisme lain melalui transposon, integron, atau plasmid. Hal ini memungkinkan gen resistensi antibiotik untuk menyebar dari satu spesies ke spesies lain. Salmonella memperoleh serangkaian gen dengan cara ini, memungkinkan organisme ini untuk menginvasi sel usus.
e. Protein Invasin
Salmonella thypi memproduksi dan mengeluarkan protein yang dikenal sebagai ”invasin” yang memungkinkan sel non fagosit untuk menelan bakteri tersebut sehingga bakteri Salmonella thypi dapat hidup secara intraseluller dalam sel tersebut.
Diagnosis Laboratorium
1. Pemeriksaan darah
a. Hitung leukosit total pada demam tifoid menunjukkan adanya lekopenia, mungkin hanya 3000 sampai 8000 per mm kubik.
b. Hitung jenis lekosit
Mungkin terjadi limfositosis dan monositosis.
2. Pemeriksaan bakteriologis
Kuman ini dapat diasingkan dari darah, air kemih, tinja, sekret yang menetap dan pada beberapa kasus dari cairan otak.
a. biakan darah
5 sampai 10 ml darah penderita diambil secara aseptik lalu dipindahkan ke dalam botol biakan darah yang berisi 100 ml kaldu empedu. Sesudah dieramkan selama 24 sampai 48 jam pada 370 C, lalu dipindahbiakkan pada agar darah dan agar Mac Conkey, pada perbenihan-perbenihan ini kuman tersebut tumbuh tanpa meragikan laktosa, gram negatif dan menunjukkan gerak positif.
b. biakan bekuan darah
Bekuan darah dibiakkan pada botol berisi 15 ml kaldu empedu (mengandung 0,5% garam-garam empedu). Biakan ini lebih sering memberikan hasil positif.
c. biakan tinja
Positif selama sakit. Diperlukan biakan berulang untuk mendapatkan hasil positif. Biakan tinja lebih berguna pada penderita yang sedang diobati dengan kloramfenikol.
Pemeriksaan serologis (UJI WIDAL)
Antibodi terhadap Salmonella mulai timbul pada akhir minggu pertama. Untuk memeriksanya dipakai uji widal yang mengukur antibodi H dan O pada serum penderita. Ada dua jenis tabung yang dipakai:
a. Tabung langsing dengan dasar lancip (tabung Dreyer) untuk aglutinasi H
b. Tabung pendek berdasar bulat (tabung felix) untuk aglutinasi D
Serum penderita yang diencerkan kelipatan dua kali (1/10, 1/20, 1/40 dan seterusnya) dicampurkan dengan antigen dengan volume yang sama (TO, TH, AO, dan AH). Pengeraman dilakukan pada 370 C selama 4 jam, lalu rak disimpan seperti kapas dan aglutinasi H terlihat berupa pembentukan gumpalan seperti kapas dan aglutinasi H tampak seperti cakram manik-manik pada dasar tabung.
Interpretasi uji widal
1. Aglutinasi mulai positif pada akhir minggu pertama. Titernya meningkat secara tetap sampai minggu ke-4, sesudahnya lalu menurun.
2. hasil uji widal lebih bermakna jika menunjukkan kenaikan titer antibodi pada dua kali pemeriksaan atau lebih.
3. Hasil uji tunggal dengan titer 1/100 dan 1/200 atau lebih titer O dianggap cukup bermakna.
4. Pada imunisasi, antibodi terhadap S. typhi maupun S.parathypi tinggi, tetapi pada suatu infeksi, hanya titer antibodi terhadap organisme penginfeksinya yang tinggi.
5. Penderita yang sudah diimunisasikan atau penderita yang sudah pernah mendapat infeksi sebelumnya dapat menunjukkan suatu reaksi anamnestik selama menderita penyakit demam lain. Pada reaksi anamnestik, reaksinya hanya berupa kenaikan sementara titer H, sedangkan pada demam enterik titernya tetap.
6. Suspensi bakteri harus bebas dari fimbria supaya tidak terjadi reaksi positif palsu.
7. penderita yang sudah diobati menunjukkan respons aglutinasi yang kurang baik.
Metode Kontrol
a. Pencegahan
- Sanitasi lingkungan harus dijaga untuk mencegah kontaminasi air dan makanan dari feses dan oleh hewan dan binatang pengerat yang mengekskresikan bakteri Salmonella.
- Daging hewan ternak dan piaraan, serta telur harus dimasak.
- Pembawa kuman tifoid (carrier) dilarang bekerja sebagai pengawas produksi makanan dan harus benar-benar terjamin higienis.
- Pengolahan sampah dan feses sebaik mungkin.

b. Pengobatan
Antibiotic yang dapat dipakai ialah kloramfenikol, furazolidin, dan ampisilin. Juga dapat dipakai trimetoprim sulfametaksazol dan amoksisilin. Pengobatan pembawa kuman (carrier) ialah dengan kolesistektomi.
Profilaksis khas dapat dicapai dengan pemberian vaksin TAB yang mengandung 1000 juta kuman S.typhi dan masing-masing 750 juta S.paratyphi A dan B per ml yang telah dipanaskan dan diawetkan dengan 0,5% fenol. Vaksin ini diberikan dalam dua dosis masing-masing 0,5 ml secara subkutan dalam selang waktu 4 sampai 6 minggu. Hasil vaksin hidup (jenis yang tergantung Streptomisin) dan vaksin mati yang diberikan dalam bentuk tablet salut enteric cukup memberikan harapan. Pada saat ini vaksin oral yang dibuat dari jenis S.typhi yang dilemahkan yang diberi kode Ty 21a telah cukup populer.

Referensi:
Mikrobiologi Jawetz
Department of Molecular and Cell Biology, University of Connecticut
Harrison Internal Medicine
At A Glance Microbiologi
Mikrobiologi Dasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar