Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan masih membangun. Pemerintah terus berusaha membangun Indonesia di segala bidang, tak terkecuali dalam bidang kesehatan. Bidang kesehatan merupakan bidang pokok yang terus mendapat perhatian karena kesehatan penduduk adalah juga merupakan kunci menuju kesejahteraan bangsa. Namun, upaya pembangunan ini masih terganjal oleh banyak faktor, antara lain faktor financial, faktor kesiapan SDM, dan faktor regulasi.
Masalah kesehatan di Indonesia masih berkutat pada kekurangan gizi dan penyakit infeksi yang saling berinteraksi satu sama lain yang mengakibatkan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun tidak kunjung meningkat. Hal ini cukup memprihatinkan karena seharusnya dalam menghadapi era globalisasi, problem kesehatan seperti di atas sudah tidak seharusnya kita temui. Masalah-masalah kesehatan ini akan menambah beban dan harus dibayar mahal oleh pemerintah Indonesia dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumber daya manusia, dan bidang ekonomi.
Pembangunan kesehatan pada era globalisasi seharusnya adalah upaya peningkatan terus-menerus mutu pelayanan kesehatan, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Derajat kesehatan inilah dapat kita jadikan bekal penting untuk menghadapi era globalisasi.
Beberapa tahun yang lalu kawasan Asia,tak terkecuali Indonesia, digegerkan oleh munculnya suatu strain penyakit infeksi baru yang diduga menyebar melalui perantara unggas. Penyakit ini dinamai Flu Burung atau Avian Influenza. Etiologi penyakit ini adalah virus influenza. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit. Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Influenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N 1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain. Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Virus strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari basil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Influenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. (www.depkes.go.id)
Sampai saat ini belum terbukti penyakit ini dapat menular melalui manusia ke manusia, tetapi sudah sewajarnyalah kita waspada karena Indonesia juga merupakan lima besar negara dengan korban meninggal terbanyak akibat Avian Influenza ini. Banyak ahli memperkirakan bahwa bukan tidak mungkin strain virus Avian influenza menjadi ganas, salah satunya karena faktor polusi udara. Polusi udara dapat merubah susunan gen virus (mutasi gen) menjadi lebih ganas dan berbahaya.
Pencegahan dan pemberantasan flu burung dalam konteks ini sangat penting untuk segera direalisasikan. Masyarakat dan Pemerintah harus proaktif dalam upaya ini karena keberhasilan bukan hanya dari upaya satu pihak saja, namun diperlukan kerjasama dari keduanya. Pemerintah sebagai pemegang regulator, mempunyai kekuasaan untuk memimpin keberhasilan misi ini, tentunya dengan bantuan dana yang cukup, fasilitas kesehatan yang memadai, dan pengikutsertaan masyarakat untuk terlibat langsung. Pembekalan pengetahuan mengenai cara pencegahan atau pemberantasan kepada masyarakat bertujuan agar sedini mungkin masyarakat bisa mencegah penyebaran virus flu burung di lingkungan mereka. Partisipasi masyarakat bisa dalam upaya pencegahan antara lain dengan cara sebagai berikut:
• Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
• Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan baik ( ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang disekitarnya.
• Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan desinfektan
• Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan
• Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 80°C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 64°C selama 5 menit.
• Melaksanakan kebersihan lingkungan.
• Melakukan kebersihan diri.
www.depkes.go.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar