Kamis, 22 Juli 2010

Si Kecil dan Kakek Tua

Suatu hari, seorang anak kecil begitu tertarik dengan nasihat guru ngajinya tentang keutamaan berjamaah sholat subuh. Dia ingin sekali bisa melaksanakan sholat subuh. Selama ini dia tidak pernah bisa melaksanakan sholat subuh karena bangunnya selalu saja di saat sang fajar sudah muncul di balik awan.

Oleh karena itu pada suatu malam, anak kecil itu bertekad tidak akan tidur, sampai dia bisa menemui subuh yang dinanti sehingga dia bisa berjamaah sholat subuh di masjid desanya. Detik demi detik ia lalui. Terasa lambat sekali.. Mata pun sudah tidak sanggup lagi untuk tetap terjaga. Sampai akhirnya dia mendengar suara adzan "Allohu akbar...Allohu akbar...". Segera saja dia bersorak riang. "Alhamdulillah...ya Allah akhirnya aku bisa sholat subuh berjamaah juga", katanya. Segera dia ambil wudhu dan memakai sarung pemberian ibunya.

Namun, Ketika sampai dia membuka pintu rumah dan melihat keadaan di luar rumah yang masih gelap...seketika dia menangis. "hiks...hiks...hu...hu..." tangisannya terdengar sangat memelas, semakin lama terdengar semakin mengharukan. Si kecil ini takut, dan tidak berani untuk keluar rumah karena hari masih gelap. Hampir saja dia putus asa karena tidak bisa berjamaah sholat subuh di masjid.

Tiba-tiba..."kresek...kresek" terdengar langkah kaki yang lewat di depan rumahnya. Si kecil menghentika tangisnya sejenak. Dia ingin tahu, siapa yang akan lewat. Ternyata yang lewat di depan rumahnya adalah kakek dari temannya, Andi. Si kecil memutuskan untuk mengikuti si Kakek diam-diam dari belakang, tanpa si Kakek tahu.
Ternyata si Kakek menuju masjid dan hendak sholat subuh berjamaah di sana. Si kecil senang, akhirnya ada orang yang bisa menemaninya pergi ke masjid.

Setiap hari, si Anak kecil ini selalu mengikuti si Kakek secara diam-diam dari belakang untuk bisa berjamaah sholat subuh. Dia senang sekali,,karena bisa melaksanakan sholat subuh berjamaah secara rutin.

Sampai pada suatu hari, si Kecil mendengar berita bahwa si Kakek meninggal dunia. Si Kecil sedih sekali. Dia menangis tersedu-sedu, sedih sekali kelihatannya. Sang ayah sampai terheran-heran kenapa anaknya begitu sedih mendengar berita ini, padahal si kakek bukanlah siapa-siapa, bukan saudaranya, tetangga pun termasuk tetangga jauh. Dia bertanya pada si Kecil, "Nak, kenapa kau begitu sedih dengan kematian kakeknya Andi?"

Si anak menjawab, "Bagaimana mungkin aku tidak sedih, ayah, kakek itu selalu menemaniku sholat subuh berjamaah di masjid. Bahkan, jika ayah meninggal pun aku tidak akan sesedih ini, karena ayah tak pernah melakukan hal yang sama seperti yang telah kakek itu lakukan padaku". Jawaban si anak tersebut seketika menghenyakkan si Ayah.

Dari kisah ini dapat kita ambil hikmah:
Tentang semangat dan antusiasme seorang anak kecil terhadap seruan kebaikan. Dan tentu saja pentingnya menanamkan hal-hal baik sejak dini melalui media keluarga, dalam hal ini terutama orang tua kepada anak-anak kita kelak.. Semoga bermanfaat, dan semoga kita tak akan pernah berhenti untuk belajar. Ya, belajar dari apapun di sekitar kita agar bisa memetik hikmah. Jangan remehkan sesuatu, walaupun itu hanya seorang anak kecil, karena jika bisa mendalami dunianya, niscaya akan banyak hikmah yang kita peroleh. Belajarlah...belajarlah...bercerminlah...bercerminlah...

Thanks for:
Mba Makawa Wulandari buat cerita-ceritanya yang menggugah....
dan teman-teman "Sobotta" _mentoring di pagi buta_hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar