Ucap Bunda
Perempuan-perempuan berkelebat di pekat embun pagi
Menjemput eloknya jantera langit
Tapi tak jarang pula ia lupa tuk hiraukannya
Kaki-kaki mereka telah tahan dengan
tusukan, sengatan hawa pagi
Sejenak ia lupakan
-demi keluarga tercinta
-demi tugas mulia
-demi tugas seorang bunda
Air mata sudah lama menjadi teman perjuangan
Semangat tlah mampu menjadi musuh sakit, erangan
Rintangan tlah dia kukuhkan sebagai batu pijakan
Dalam sujudmu
“Engkau anakku….
Setiap ucapku pada Tuhanku
Mengiringi pijak masa depanmu”
Bait Kata Mujahid
Luka merah terendap lara
Dalam windu-windu jejak intifadhah
Pertahankan kesucian Al Quds
Bom-bom Molotov itu sudah akrab dengan kuping kecil mereka
(juga) bau desingan senapan yang memuntahkan
isinya, tabu dalam sepanjang ingatan sejarah
Tangisan janda-janda Palestina, mencecap duka
Iringi kepergian jundi kecil dan abi tercinta
Menambah kidung syahdu lembar kelam
kisah alam
Mereka telah menodai tanah ini
dengan rudal-rudal canggih
-miris, perih mengikis kulit tipis
dengan tank-tank baja kokoh yang melaju
-ANGKUH
dengan tentara-tentara gagah
-tapi miskin hati nurani
licinkan akal-akal licik
penguasa adidaya
kobarkan konspirasi semu ZIONISME!!
Segera,
Rapatkan langkahmu, umat muslim
Jihad suci nawaitu hati
Menghidupkan kembali Masjidil aqsha
yang semakin terkubur
Oleh tingginya dinding ratapan
Bumi Minyak 1/10/05
Bergolak,
Ketika minyak tanah, solar, dan premium
Menjadi barang rebutan
Semakin jauh untuk digayuh
Ibu-ibu yang setia dengan berpuluh-puluh jerigen
di hadapan, penuh harapan
Membopong buah hati yang kadang masih merah
Nuju pangkalan, --berdesak-desakan
Dengar, bingar, di sekitar pertiwimu
Mahasiswa berpanas (rela)
Berkoar, membakar ban bekas membela rakyat jelata
Apa kalian dengar, “Hai para adikuasa!!!”
yang dengan
asusila_nirsila
Tak berakal dan bermoral
Mentahbiskan dengan sempurna
kuasa dan asa
Sekali lagi bumi minyak ini menangis
Teriris dengan gegiris
Meratapi jalan yang berliku
terjal
Untuk cucu-cucunya
BAYANG
Aku adalah gema dari nyanyimu
yang terpantul dari curamnya
Nafas kehidupan
Aku adalah bab-bab
Dalam judul-judul buku yang
tertulis, tergaris
Pada lembaran-lembaran
Lusuh, bercuh
Dan
Aku jejak yang tersapu pada
langkah-langkah gagah
Yang pernah menjejak, sangat dekat
Di atas tanah Tuhan
Karena
Aku
pun
Kau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar