Selasa, 10 November 2009

Apa Kabar dengan UKS di SD-ku?

(Sebuah persembahan kecil untuk menyambut Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November 2009)

Apa yang ada di benak Anda bila disebut kata UKS di SD? Jawabannya mungkin bermacam-macam, seperti UKS adalah ruang sempit di pojok sekolah yang biasanya dibuka di hari senin untuk menampung anak-anak yang pingsan ketika upacara bendera. Atau mungkin ada yang menjawab, UKS adalah tempat di mana pusat kesehatan di lingkungan sekolah dasar dikelola. Semua jawaban tidak salah, sangat manusiawi.

Sedih memang, orang-orang belum mengerti apa esensi besar yang terkandung dalam UKS. Selama ini UKS di Indonesia belum terkelola dengan baik. Hanya beberapa sekolah dasar yang dikatakan “unggulan” yang mampu mem”blow up” fungsi dan kerja UKS dengan baik. Lalu bagaimana sisanya? Padahal kita tahu sendiri bahwa banyak sekali sekolah dasar di tanah ibu pertiwi ini yang masih menghadapi masalah yang bersifat vital, misalnya saja banyak SD di daerah terpencil yang ruang kelasnya harus bergantian karena kerusakan sudah semakin parah. Kalau sudah seperti ini bagaimana mungkin mereka akan memikirkan masalah UKS?

Peran dan fungsi UKS di SD sangatlah penting. Kegiatan UKS SD meliputi pemeriksaan antropometri, untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah, pemeriksaan refraksi mata, pemeriksaan telinga dan pendengaran, kadar Hb, pemeriksaan golongan darah, pemeriksaan gigi dan mulut. Anak sekolah juga diajak berpartisipasi aktif (management resources). Perlu ditekankan di sini bahwa fungsi UKS bukan hanya melayani mengenai masalah kuratif (penyembuhan) pada kesehatan siswa di sekolah dasar. UKS adalah tempat dimana warga sekolah mengelola masalah kesehatan yang dapat terdiri dari preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan) di lingkungan sekolah. UKS dapat memberikan pendidikan tentang kesehatan dini terhadap para siswa, misalnya melalui pembinaan dokter kecil. Misalkan, guru dengan dibantu dengan petugas kesehatan setempat memberi penataran kepada dokter kecil mengenai manfaat dan tata cara yang benar tentang cuci tangan dan sikat gigi. Dokter kecil inilah yang nantinya diharapkan mampu berbagi informasi dan menularkannya kepada teman-temannya.

Usia awal pada anak adalah saat-saat yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan, tak terkecuali dengan pendidikan kesehatan. Jika pendidikan kesehatan melalui UKS ini berhasil, bukan tidak mungkin para siswa akan mengintegrasikan atau mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Ini berarti akan tercipta generasi yang sehat jasmaninya dan diharapkan rohaninya pun akan berjalan beriringan. Generasi yang sehat adalah modal berharga dalam upaya pembangunan bangsa.

Namun, seringkali potensi yang berharga ini tidak tertangkap oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan pendidikan di sekolah dasar dan pemerintah. Tak pelak, pendidikan kesehatan melalui UKS di SD banyak yang mati suri. Ya, mengapa disebut mati suri? Karena UKS seringkali hanya berfungsi pada waktu-waktu incidental saja, misalnya ketika ada lomba sekolah sehat atau lomba dokter kecil, UKS baru dihidupkan, kemudian bila lomba sudah berlalu, maka berlalu pula peran UKS. Jika seperti ini sebenarnya apa yang diharapkan pihak sekolah? Penghargaan atau pendidikan? Perlu ditekankan bahwa pendidikan kesehatan harus dilakukan secara kontinyu, tidak bisa hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Anda yang membaca artikel ini pasti setuju, apalagi anda yang terjun dalam dunia pendidikan. Pendidikan itu perlu waktu dan kesabaran. Benar bukan?

Paradigma sehat yang saat ini merupakan kebijakan pembangunan kesehatan baru yang lebih progresif dan proaktif, pada hakikatnya lebih menekankan pada upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Prinsip ini tepat sekali jika kita aplikasikan pada UKS. Inti pokok paradigma sehat sebenarnya hanya mencakup tiga prinsip pokok, yaitu sebagai berikut:

  1. Pembangunan nasional yang dilaksanakan harus berwawasan kesehatan

Keberhasilan pembangunan dengan paradigma sehat ditentukan oleh keberhasilan menumbuhkan wawasan kesehatan pada setiap pelaku pembangunan. Dalam hal ini para siswa adalah pelaku pembangunan di masa depan.

  1. Upaya kesehatan yang lebih utama adalah promotif dan preventif

Upaya mencapai kesehatan siswa memerlukan pendekatan lain yang bersifat pembinaan, yaitu model pendekatan dalam jangka panjang akan mampu mendorong para siswa untuk bersikap mandiri dalam pemeliharaan kesehatan.

3. Kelompok sasaran yang lebih utama adalah manusia sehat

Karena biaya untuk mencegah suatu penyakit jauh lebih murah daripada mengobati suatu penyakit.

Oleh karena itu, dalam rangka hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November 2009 diharapkan pemerintah, pelaku pendidikan, dan petugas kesehatan bersama-sama membangkitkan kembali “nyawa” UKS di sekolah dasar di seluruh Indonesia. Karena kesehatan anak-anak adalah modal utama yang perlu disiapkan secara baik untuk menghadapi pembangunan nasional dan era globalisasi. Semoga dunia kesehatan di Indonesia akan semakin terwarnai dengan adanya langkah kecil dan awal ini, yaitu pendidikan kesehatan bagi anak SD melalui UKS. Ayo bangkitkan kembali semangat untuk mencapai cita-cita Indonesia Sehat di tahun 2010!!!

Ditulis oleh:

Jati Sumilih

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Program Studi Kedokteran Umum

Semester 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar