Jumat, 16 Januari 2015

Ibu: Madrasah Kehidupan Pertama Bagi Seorang Anak

Sesuatu yang selalu membuat saya "addict" yaitu buku. Saya sangat menggilai benda tersebut. Entahlah, dari kecil saya sudah sangat akrab dengan buku. Sampai-sampai jika saya tidur saya harus membaca buku terlebih dahulu, barulah bisa tidur. Jadilah, sampai saat ini pun, di tempat tidur selalu ada buku di samping bantal saya. Serasa tenang jika ditemani si buku ini saat menjelang terlelap ke alam mimpi. Dari kegemaran membaca inilah saya sadari telah banyak membawa peran besar di kehidupan saya saat ini. 

Saat kecil, buku apa saja saya baca, terutama jika ada cerita fiksinya. Saya masih ingat, saat usia 7 tahun, ibu saya sedang menempuh D2 jurusan PGSD. Beliau mempunyai banyak sekali modul pembelajaran dari kampusnya. Saking penasarannya, saya ambil dan buka satu per satu modul-modul tebal itu untuk mencari apakah ada cerita fiksi yang dapat saya baca di dalamnya. Hehehe, niat sekali ya. :D Lain waktu saya juga meminta ibu saya membawakan buku-buku dari perpustakaan di SD tempat beliau mengajar. Alhasil ibu membawakan 2-3 buku untuk saya baca, setelah khatam dibaca, buku-buku tersebut dikembalikan dan membawa 2-3 buku lagi yang lain untuk saya baca, dan seterusnya. Suatu hari ibu membawakan saya buku cerita yang bentuknya bagus sekali, hard cover, tampilannya seperti buku diary, whoaa..saya sangat girang sekali saat itu. Kalau tidak salah judulnya Jack dan Kacang Buncis dan yang satu lagi saya lupa judulnya. Ternyata ibu meminjamkannya dari murid kelas V di SD nya. 

Dulu memang keadaan keuangan keluarga tidak memungkinkan saya untuk rutin dibelikan buku bacaan oleh ibu. Ibu hanya bisa meminjamkan saya buku-buku di perpustakaan sekolahnya kepada saya. Kadang juga saya diberi majalah bekas dari saudara saya, majalah Bobo. Lumayan sekali, dapat bacaan gratis, isinya bagus lagi. Mungkin dulu sudah sampai 30-an edisi Bobo yang saya punya. Saat beranjak remaja, bacaan saya berubah. Saya suka sekali berlangganan majalah remaja Islam, majalah Annida. terbit sebulan dua kali. Saya mulai langganan dari kelas 6 SD hingga terakhir kelas 1 SMA. Setelah itu, majalah tersebut sempat tidak terbit dalam bentuk hardcopy dengan alasan menyelamatkan lingkungan. Majalah tersebut masih eksis hingga saat ini dalam bentuk majalah remaja Islami online. Saya pun masih follow akunnya via facebook.

Kegemaran membaca ini sebenarnya diwariskan dari ibu. Ibu dulu saat remaja juga katanya jika sudah membaca, bisa sehari 2 novel habis sambil beliau mengerjakan pekerjaan rumah. Mas saya pun sama, kutu buku gila. Lebih sedikit parah dari saya. Tapi dia lebih cenderung ke bacaan Islami yang berat-berat, hadist, tafsir, dll. Alhasil saya dapat warisan kitab-kitab tebal di rumah. Dulu saya tidak berminat sama sekali untuk membacanya, mumet saya pikir. Tapi sekarang alhamdulillah sedang memulai proses belajar membaca bahan bacaan Islami yang sedikit berat itu. Doakan saya, saya sedang berusaha mencintai Allah lebih dekat lagi ;)...Saya tertarik sekali dengan ilmu tafsir. Di dalamnya saya bisa mengkaji ayat, asbabun nuzulnya, keindahan tafsir bahasanya, ah saya jatuh cinta. ;)) Saat ini, genre membaca saya sudah meluas. Psikologi anak, agama, politik, ekonomi, kedokteran, sains, parenting, dan fiksi tentu saja masih membuat saya selalu jatuh cinta, terutama fiksi histori.

Bagi saya membaca adalah hidup saya, bukan suatu hal yang istimewa lagi. Suatu saat kelak, saya ingin sekali anak-anak saya juga bisa saya kenalkan dengan ilmu-ilmu Allah yang berceceran di dunia ini dengan cara membaca. Sehingga insya Allah mereka menjadi generasi yang mengenal dengan baik tuhannya dan akan selalu mencintaiNya. Semoga Engkau memberikan kepercayaan itu kepadaku ya Allah... ;) Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar