Beberapa bulan ini ritme hidup saya berubah. Dari yang selalu mengawali aktivitas pagi di kampus atau di rumah sakit hingga melewati hari dan akhirnya sampai di ujung senja bahkan terkadang disambung jaga sebgai seorang dek coass, alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa sedikit beristirahat. Enam tahun pendidikan di bangku universitas dan keprofesian baru saja saya lalui. Syukur yang tak henti hingga saat saya menulis terus saya panjatkan kepada Allah SWT.
Lantas apa aktivitas saya di rumah sekarang? Bayangkan saja, dari yang awalnya untuk sekadar istirahat dan bertemu kasur saja terkadang merupakan hal yang sangat langka dan berharga. Tapi, lihatlah sekarang, saya mempunyai banyak waktu luang di rumah. Bulan pertama nganggur saya sempat agak stress, tidur gelisah, sering ngelamun, males kemana-mana. Ibu saya sampai kasihan melihat saya seperti ini. Mungkin ini yang dinamakan 'post power syndrome' kali ya? hehehe.
Sudah dua bulan saya nganggur. Ah, sekarang saya sudah ikhlas. Ya memang ketentuannya seperti itu. Dijalani saja. Saya masih harus meunggu sertifikat kompetensi dan STR (Surat Tanda Registrasi) sebelum nanti bisa mengikuti program internship terdekat, yaitu jika Allah SWT mengizinkan sekitar bulan Maret 2015. Jadi masa-masa nganggur saya sekitar masih 5 bulan lagi. Semuanya diambil hikmahnya saja. Di waktu luang ini saya bisa full di rumah, berbakti pada ibu & mbah, meng-upgrade pengetahuan saya tentang hal-hal lain di luar bidang kedokteran yang mungkin selama 6 tahun ini banyak yang tidak saya ketahui. Banyak pula teman-teman seangkatan saya memanfaatkan waktu luang ini untuk menggenapkan separuh dien-nya, yap, menikah. Tapi berhubung saya belum bertemu jodoh, ya saya hanya melaksanakan point kesatu dan kedua. :)
Kadang saya bingung, jika ditanya, sudah lulus, mau rencananya apa? praktek dimana? mau spesialis apa. Jujur, saya bingung setiap mau menjawabnya. Sudah menjadi kebiasaan saya, tidak pernah khusus menuliskan rencana hidup saya secara rinci. Hidup saya selow sekali, mengalir seperti air, tapi tetap saya ikhtiar. Bukannya tidak punya cita-cita, keinginan atau rencana, tapi memang saya hanya menyimpannya dalam hati. Tidak suka saya ceritakan. Pikir saya, insyaAllah sudah ada jalannya. Saat ini saya belum tahu ujung perjalanannya seperti apa, hanya minta didoakan saja. Insya Allah setiap pilihan Allah SWT adalah terbaik bagi saya.
Pada prinsipnya, manusia itu fitrahnya harus terus belajar. Dimanapun dan kapanpun dia berada. Tak terbatas pada tembok universitas ataupun saat sudah bekerja nanti atau saat ini kita masih nganggur. Apalagi sebagai seorang perempuan. Saya begitu meyakini bahwa seorang perempuan itu harus gemar belajar, harus tertarik membaca apapun yang mengandung materi pembelajaran yang baik. Ini dikarenakan perempuan adalah pembangun peradaban kelak. Di tangannya, masa depan anak-anak ditentukan. Jadi intinya walaupun sudah tidak menjadi mahasiswa, seorang perempuan harus senantiasa meng-update pengetahuannya, apapun, asal baik, tak terbatas pada bidang konsentrasi saat kuliah.
Belajarlah segala hal. Bacalah tentang kesehatan, ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, atau yang lainnya. Dan jangan lupa juga membaca tentang parenting. Mungkin saat ini belum terasa mafaatnya, tapi insyaAllah di suatu hari ilmu itu akan bermanfaat, entah untuk diri sendiri, orang lain, keluarga, dan yang pastinya untuk anak-anak kita kelak.
Di liburan panjang ini saya sedang tertarik belajar politik dan ekonomi. Saat graduation day saya pesan khusus kepada Mas saya, minta kado buku X. Buku tersebut bercerita tentang dinamika politik dan ekonomi Indonesia 10 tahun terakhir. Cukup menarik. Saya yang dulu setiap ada kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah, saya hanya bisa mengumpat. Karena yang saya tahu pemerintah tidak pro rakyat, main seenaknya sendiri menaikkan harga BBM, padahal rakyat berteriak kesusahan. Ternyata setelah membaca buku ini, mata saya terbuka dan lebih bijak terhadap pemerintah. Kenaikan BBM merupakan opsi yang sulit. Tapi kebijakan yang sulit ini harus ditempuh, demi kepentingan yang lebih besar. Yaitu penyelamatan APBN dan anggaran fiskal. Itulah mengapa pemerintah megambil kebijakan opsi yang sulit ini, namun dengan tanggung jawab moral tetap dijunjung. Yaitu dengan mengkompensasi kenaikan BBM dengan pemberian bantuan langsung tunai (BLT). Mungkin langkah ini juga akan ditempuh oleh Presiden baru kita Jokowi, yang akan kembali menaikkan harga BBM dengan kompensasi pemberian KIS dan KIP. Semoga tepat sasaran ya, Pak programnya. Dan semoga petugas kesehatan tetap diperhatikan kesejahteraannya walaupun ada program KIS.
Nah, menarik bukan? Menjadi dokter yang punya nilai plus itu penting. Tahu banyak hal itu menyenangkan. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang lebih bijak sekaligus punya manfaat.:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar