Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di blog. Yup, hampir 2 bulan saya koass di bagian Obsgin. Kata teman-teman saya satu stase, kita berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Alhasil selama 2 bulan itu, bisa diumpamakan seperti tidak pernah melihat matahari. Lelah sudah pasti, tapi apakah hanya itu saja yang didapat? semoga saja tidak.
Menarik sekali sebenarnya stase ini, bertemu para ibu yang hebat, yang berjuang demi kelahiran buah hatinya. Kadang malah nyawa menjadi taruhannya, berhadapan dengan perdarahan post partum, eklampsi (sedang marak sekali kasusnya saya rasa), infeksi. Ah, ibu memang selalu saja menjadi sosok istimewa bagi kita. Bagi saya, tak pernah ada manusia lain yang begitu dekat selain ibu. Tak bertemu berapa waktu saja selalu menyesakkan dada.
Waktu pertama kali saya pengawasan persalinan, saya kadang sering kesal dengan ibu yang statusnya primigravida (baru pertama kali hamil) karena biasanya mereka rewel sekali jika his (kontraksi khas yang menandai persalinan) sedang datang. Ada yang teriak-teriak, tidak mau diatur, biasanya penginnya langsung opersai caesar saja, tidak mau menahan terlalu lama kesakitan setiap ada his. Sampai saya biasanya agak males kalau tugas pengawasan pada primi. Pikir saya, lha wong mau jadi ibu koq tidak mau berkorban sedikit dan sebentar menahan sakit untuk anaknya? Sebenarnya sudah pada siap atau belum nih untuk hamil? Berbeda dengan para multigravida (ibu-ibu yang sudah beberapa kali hamil), mereka kebanyakan tenang, dan mudah diatur. Mungkin pengalaman menjadi kunci utamanya. Namun, ada juga siy yang hamil sudah ketiga kalinya namun masih aja rewel & tidak sabaran. Ini yang lebih mengherankan saya. ckckck
Saat ada waktu senggang saya bercerita tentang pengalaman saya dengan ibu. Ibu menegur saya, kata beliau, "orang melahirkan memang sakit sekali, jadi kamu jangan kesal sama mereka yang rewel. Ibu juga dulu kaya mereka. Ga jelas rasanya sakitnya dimana. Ya itu wajar, kamu nanti kalau hamil juga mungkin kaya mereka". Deg, iya juga ya, saya lupa. Saya belum pernah merasakan menjadi ibu yang melewati masa-masa sakit dan lelah saat datang waktu persalinan.
Saya pernah dengar atau baca (lupa) kalau puncak sakit seumur hidup yang pernah dirasakan wanita adalah saat persalinan. Itulah pengorbanan seorang ibu yang luar biasa saat akan menghadirkan kehidupan seorang bayi mungil di dunia. Tak heran dan tak berlebihan jika surga diibaratkan berada di telapak kaki ibu.
![]() |
| Bayi Pipi Merah :) |
Dan satu lagi, saya membaca lagi ayat kauniah Allah dalam Obsgin ini, yaitu mengenai his..Coba simak terjemah QS. Maryam:23 berikut "Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan". Subhanallah, dimanapun dan menjadi apapun kita, ayat-ayat Kauniyah Allah selalu ada dan membuktikan kepada kita akan kebesaranNya. Menurut Prof. ZM tadi pagi beliau berkata bahwa apalagi bagi seorang dokter. Dimana dia mempelajari makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, sudah pasti kita sejatinya sedang mengeja ayat-ayat Allah dalam tubuh seorang manusia. Bagaimana keadaan fisiologisnya dan bagaimana patologisnya. Sudah seharusnya pula kita, apapun pekerjaan atau bidang ilmu yang kita tekuni senantiasa berada dalam "Sajadah Panjang"-Nya. Tidak akan pernah memisahkan urusan dunia dan akhirat. Dunia hanyalah persinggahan sementara dimana bekal yang banyak harus kita kumpulkan untuk kehidupan sebenarnya di akhirat. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar