Senin, 19 November 2012

Semua Boleh Memilih


Kehidupan menjadi koass atau dokter muda sudah saya jalani, kurang lebih seminggu ini. Rasanya nano-nano, tidak bisa diungkapkan. Ada takut, senang, bingung, semua jadi satu. Apapun itu, toh nyatanya sudah berjalan seminggu. Sepertinya mungkin shock kecil sedang menimpa saya. Ah, mungkin ini yang namanya adaptasi. Seperti kata teori, makhluk hidup selalu beradaptasi dengan lingkungannya. Saya juga, mencoba beradaptasi dengan kehidupan baru saya, hidup sebagai koass, hidup jadi warga rumah sakit. Doakan pembaca...semoga saya bisa melalui tahap ini :)

Koass pertama saya stase THT-KL. Stase kecil katanya. Namun ternyata, setelah menjalaninya subhanallah sekali. Mungkin benar, hanya kependekan dari Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher, tapi ilmunya luaaass sekali. Ditambah pula objek THT-KL tergolong benda-benda kecil (misal tulang pendengaran saja struktur dan mekanisme kerjanya sungguh rumit). Kami diharuskan untuk aktif mencari kasus, melihat & melakukan tindakan THT, diskusi kasus, mengerjakan tugas, belajar materi, persiapan ujian, dll. Walhasil ada beberapa teman yang kadang nyeletuk "aku kangen jadi komuda" yang kemudian di-aminkan oleh yang lain. Hehehe, aneh juga, dulu waktu komuda ingin cepat-cepat jadi koass, sekarang malah yang sudah resmi diangkat dan disumpah jadi koass ingin mundur satu langkah ke belakang.

Tapi shock saya tersebut di atas, berusaha saya minimalisir. Saya anggap akan banyak hal-hal baru di depan yang "amazing" dan sangat sayang jika diawali dan diteruskan dengan kalimat-kalimat keluhan. Stop. Cukuplah bernostalgia dengan masa lalu. Saya sadar, ini proses yang harus saya jalani. Sama seperti proses-proses dulu yang sudah saya lewati. Kalau mau ke SMP ya harus sekolah dan lulus di jenjang SD kan? Sama seperti sekarang, jika ingin jadi dokter maka tahap koass wajib dilalui. 

Betapa tidak bersyukurnya saya jika saya banyak mengeluh. Saya bercermin pada pasien-pasien THT yang saya temui di bangsal dan poli. Banyak sekali pasien dengan diagnosis keganasan, terutama keganasan nasofaring, hidung, sinus, dan rongga mulut. Rasanya ingin menangis kalau melihat pasien-pasien itu. Ah, mereka yang sedang diuji sakit oleh Allah saja sangat semangat untuk mencari dan meneruskan pengobatan yang cukup panjang dan mungkin menghabiskan biaya. Malu saya, jika saya yang sehat ini, makan cukup, biaya cukup, tetapi tidak maksimal dalam belajar. Ampuni hamba ya Rabb ;).

Sebagai seorang yang sudah dewasa, hidup ini sudah di tangan masing-masing. Semua sudah ada pilihannya. Mau jadi koass rajin atau koass pato? Mau jujur tidak melakukan pemeriksaan fisik dan dianggap malas atau melakukan PF, atau berbohong tetapi dosanya lebih besar daripada yang dianggap malas? Mau sekedar cari kasus dan yang penting lulus atau sambil diselami, dihayati, dan diambil hikmahnya untuk menjadi pribadi lebih baik?Mau mengaharap ridho Allah apa ridho supervisor? Astaghfirullah...AmpunanMu seluas mungkin kupinta ya Rabb. Masih banyak sekali pilihan dalam hidup ini. Kebijaksanaan diri dan kematangan sikaplah yang akan membimbing kita menentukan pilihan yang tepat. Pilihan yang tidak menyesatkan diri sendiri dan membawa kita ke kebaikan hidup. Jadilah sekeren kaktus yang mampu tumbuh di padang pasir gersang tanpa menjadi parasit tumbuhan lain. Kaktus menyediakan cadangan air pada batangnya bagi siapa saja yang kehausan di tengah gurun, namun dia tetap kokoh dengan durinya yang selalu melindunginya dari jamahan makhluk lain. Jadilah seperti itu Jati!!

Terima kasih: kepada pasien karsinoma di bagian THT siang ini, kalian adalah guru ilmu sekaligus guru kehidupan kami ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar