Kehidupan menjadi koass atau dokter muda sudah
saya jalani, kurang lebih seminggu ini. Rasanya nano-nano, tidak bisa
diungkapkan. Ada takut, senang, bingung, semua jadi satu. Apapun itu, toh
nyatanya sudah berjalan seminggu. Sepertinya mungkin shock kecil sedang menimpa
saya. Ah, mungkin ini yang namanya adaptasi. Seperti kata teori, makhluk hidup
selalu beradaptasi dengan lingkungannya. Saya juga, mencoba beradaptasi dengan
kehidupan baru saya, hidup sebagai koass, hidup jadi warga rumah sakit. Doakan
pembaca...semoga saya bisa melalui tahap ini :)
Koass pertama saya stase THT-KL. Stase kecil
katanya. Namun ternyata, setelah menjalaninya subhanallah sekali. Mungkin
benar, hanya kependekan dari Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher,
tapi ilmunya luaaass sekali. Ditambah pula objek THT-KL tergolong benda-benda
kecil (misal tulang pendengaran saja struktur dan mekanisme kerjanya sungguh
rumit). Kami diharuskan untuk aktif mencari kasus, melihat & melakukan
tindakan THT, diskusi kasus, mengerjakan tugas, belajar materi, persiapan
ujian, dll. Walhasil ada beberapa teman yang kadang nyeletuk "aku kangen
jadi komuda" yang kemudian di-aminkan oleh yang lain. Hehehe, aneh juga,
dulu waktu komuda ingin cepat-cepat jadi koass, sekarang malah yang sudah resmi
diangkat dan disumpah jadi koass ingin mundur satu langkah ke belakang.
Tapi shock saya tersebut di atas, berusaha saya
minimalisir. Saya anggap akan banyak hal-hal baru di depan yang
"amazing" dan sangat sayang jika diawali dan diteruskan dengan
kalimat-kalimat keluhan. Stop. Cukuplah bernostalgia dengan masa lalu. Saya
sadar, ini proses yang harus saya jalani. Sama seperti proses-proses dulu yang
sudah saya lewati. Kalau mau ke SMP ya harus sekolah dan lulus di jenjang SD
kan? Sama seperti sekarang, jika ingin jadi dokter maka tahap koass wajib
dilalui.
Betapa tidak bersyukurnya saya jika saya banyak
mengeluh. Saya bercermin pada pasien-pasien THT yang saya temui di bangsal dan
poli. Banyak sekali pasien dengan diagnosis keganasan, terutama keganasan nasofaring,
hidung, sinus, dan rongga mulut. Rasanya ingin menangis kalau melihat
pasien-pasien itu. Ah, mereka yang sedang diuji sakit oleh Allah saja sangat
semangat untuk mencari dan meneruskan pengobatan yang cukup panjang dan mungkin
menghabiskan biaya. Malu saya, jika saya yang sehat ini, makan cukup, biaya
cukup, tetapi tidak maksimal dalam belajar. Ampuni hamba ya Rabb ;).
Sebagai seorang yang sudah dewasa, hidup ini
sudah di tangan masing-masing. Semua sudah ada pilihannya. Mau jadi koass rajin
atau koass pato? Mau jujur tidak melakukan pemeriksaan fisik dan dianggap malas
atau melakukan PF, atau berbohong tetapi dosanya lebih besar daripada yang
dianggap malas? Mau sekedar cari kasus dan yang penting lulus atau sambil
diselami, dihayati, dan diambil hikmahnya untuk menjadi pribadi lebih baik?Mau
mengaharap ridho Allah apa ridho supervisor? Astaghfirullah...AmpunanMu seluas
mungkin kupinta ya Rabb. Masih banyak sekali pilihan dalam hidup ini.
Kebijaksanaan diri dan kematangan sikaplah yang akan membimbing kita menentukan
pilihan yang tepat. Pilihan yang tidak menyesatkan diri sendiri dan membawa
kita ke kebaikan hidup. Jadilah sekeren kaktus yang mampu tumbuh di padang
pasir gersang tanpa menjadi parasit tumbuhan lain. Kaktus menyediakan cadangan
air pada batangnya bagi siapa saja yang kehausan di tengah gurun, namun dia
tetap kokoh dengan durinya yang selalu melindunginya dari jamahan makhluk lain.
Jadilah seperti itu Jati!!
Terima kasih: kepada pasien karsinoma di bagian
THT siang ini, kalian adalah guru ilmu sekaligus guru kehidupan kami ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar