Siklus panum (kepaniteraan umum) yang berjalan sudah empat minggu ini sungguh sangat melelahkan kurasa. Sangat padat dan full of ujian di setiap akhir minggu. Setiap materi dipadatkan hanya kira-kira 4 hari tutorial sekaligus roleplay selanjutnya sabtunya ujian. Bahkan ada beberapa materi hanya diberikan dalam 2 atau bahkan satu hari, kemudian esoknya ujian. Padahal, materinya seabreg. Wuiih… di sela-sela kesibukan itu, sebagai anak kos harus bisa meluangkan waktu untuk les, mencuci, menyetrika, menyiapkan materi tutorial dan belajar, mencari makan, dll. Jadilah badanku terasa capek sekali di malam hari.
Seperti saat hendak ujian bagian kulit dan kelamin kemarin, bayangkan saja aku justru tidur lebih awal sekitar jam 8 hingga pagi. Aku hanya sempat belajar beberapa lembar materi di buku dan sisanya tertidur…. Mungkin pengaruh siklus panum minggu lalu PPGD masih terasa. Minggu lalu hampir setiap hari pulang sore karena harus mengikuti praktikum bebas. Alhamdulillah paginya masih bisa merampungkan membaca copian bahan sebelum berangkat ke tempat ujian.
Kelompok kami sebelumnya memang sudah bertanya-tanya dengan kelompok sebelumnya yang sudah terlebih dahulu masuk di siklus kulkel. Ternyata ujiannya Osce tapi massal. Jadi satu rombongan diuji langsung oleh penguji, masing-masing anak wajib mengajukan pertanyaan untuk anamnesis sesuai dengan kasus yang diujikan. Tidak seperti ujian-ujian sebelumnya yang harus berhadapan langsung dengan supervisor (dosen senior), ujian tatap muka tunggal yang selalu dihadapi dengan dag-dig-dug, kali ini aku bisa sedikit menarik nafas lega. Setidaknya kegelisahanku setiap menjelang ujian tersamarkan dengan system rombongan seperti ini.he…
Kabar baik juga kami dapatkan sebelum ujian, penguji kami Prof. PS yang konon kemarin katanya memberikan nilai sempurna A pada semua anggota rombongan yang diuji oleh beliau. Jadilah kelompokku mulai mempersiapkan diri. Menurut sumber yang terpercaya, Prof menyukai segala hal tentang kerapian dan kedisiplinan. Jadilah kami saling mengingatkan tentang hal-hal tertentu seperti: pakaian harus rapi, kaki tidak boleh disilang saat duduk, tidak boleh menopang dagu, tidak boleh terlambat, dll. Dan yang terakhir, jika nanti prof bertanya mau diberi nilai apa kita harus menjawabnya seperti berikut ini “Monggo Prof, saya serahkan ke Prof saja, yang terbaik menurut Prof”. Wah…so complicated. Tapi baiklah akan saya lakukan, bisik saya dalam hati.
Ujian pun mulai berlangsung. Kami satu persatu mengajukan pertanyaan anamnesis kepada Prof yang bertindak selaku penguji sekaligus pasien. Siklus ini berlangsung dua kali. Setelah itu Prof memerintahkan kami untuk mengajukan diagnosis banding dari kasus tersebut. Setelah itu tibalah saat-saat itu. Saat dimana prof meminta kami untuk mengatakan berapa nilai yang ingin kami peroleh. Teman-teman menjawab yang intinya seperti kalimat di atas “Monggo Prof, saya serahkan ke Prof saja, yang terbaik menurut Prof”. Dan tahukah? Prof hanya senyam-senyum mendengar jawaban kami yang kompak serempak. Beliau hanya bertanya seperti ini “Yang bener? Kalian ikhlas? Kalau nanti saya kasih nilai E bagaimana? Kalian tidak boleh seperti ini, kalian harus mengajukan nilai ke saya.” Namun walaupun Prof berbicara seperti itu tidak ada dari kami yang berani mengajukan nilai yang diinginkan. Sebenarnya kami gusar, karena ya, jawaban kami sama semua. Hehehe. Aku pun gusar. Saat microphone sampai di urutanku. Prof bertanya “Apa mba?” aku menjawab saja seperti ini “terserah Prof saja, saya tidak bisa menilai jawaban saya, karena saya tidak tahu jawaban/pertanyaan saya tadi benar atau salah” Prof berkata “oh begitu” . Alhamdulillah Prof tidak mengintrogerasiku lebih jauh dengan pertanyaan sulit. Microphone langsung berpindah ke urutan selanjutnya. Sampai orang terakhir.
Prof PS terakhir hanya berkata bahwa “menjadi orang hendaklah yang rendah hati. Seperti ujian tadi, kalian tidak bisa menilai diri kalian sendiri, maka saya bertanya seperti itu.” Lanjut beliau “Jadilah orang yang tidak sombong, sampai kapan-pun, walaupun kalian sudah jadi apa-pun, jangan pula nanti kalau kalian menjadi menteri melupakan almamater kalian ini. Belajar terus, sekaligus jangan lupa berdoa, insya Allah akan berhasil.” Aku takjub seketika itu. Aku berpikir bahwa pertanyaan Prof tadi hanya menjebak saja. Beliau ingin tahu seperti apa pola pikir kami, apakah mentang-mentang soal ujian mudah dan kami bisa menjawabnya dengan yakin akan kemudian menjadikan kita berani mengajukan nilai A kepada beliau. Walaupun pada kenyataannya mungkin kita pantas untuk mendapatkan nilai itu. Tapi Prof pada ujian kali ini bukan sedang memberi ukuran nilai A setara dengan jawaban yang benar atau kelancaran menjawab. Bukan semata itu. Bagi Prof, nilai A yang setara dengan kerendahan hati itu lebih bermakna dari nilai A yang setara dengan jawaban yang benar. Tapi beliau akan jauh lebih senang jika nilai A itu setara dengan sikap rendah hati yang diikuti dengan jawaban yang benar. Ah, sungguh pelajaran yang bermakna. Nilai A itu dapat aku lihat dari keseharian Prof PS, beliau yang seorang Profesor, Doktor, dokter konsultan, spesialis kulit kelamin masih terlihat sederhana dan selalu tersenyum jika bertemu dengan mahasiswanya.
Di akhir session beliau sedikit bergurau “Nanti kalian kalau ga bilang mau dikasih nilai apa, saya bisa kasih nilai A, A aksen atau E lho..” kami hanya tersenyum. Kami insyaAllah yakin Prof yang baik hati itu tidak tega memberi kami nilai E. hehe. Aku pasrah untuk nilai ujian kali ini dapat B atau A akan aku syukuri. Yang terpenting ujian kali ini aku banyak sekali mendapat pelajaran hidup. ;)
Semarang, 4 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar