Beberapa waktu yang lalu mungkin saya pernah posting tentang beberapa cita-cita saya, salah satunya jadi dokter spesialis penyakit dalam (internist). Entah, walaupun saya belum mengambil kuliah interna, saya cukup tertarik dengan bidang tersebut, hingga memutuskan untuk bercita-cita sebagai internist. Memang ada beberapa alasan yang sudah lama saya pikirkan dan pertimbangkan yang mendorong saya untuk mempunyai keinginan sebagai internist. Mungkin bukan di sini tempatnya untuk saya memberitahukan alasan tersebut. Hehe. Hanya beberapa orang saja mungkin yang tahu tentang alasan saya, termasuk ibu saya tentunya sudah tahu.
Pada suatu waktu, saya berkesempatan tak sengaja satu arah tujuan ke suatu tempat dengan salah satu teman laki-laki satu angkatan. Sepanjang jalan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil jalan, menghabiskan waktu ceritanya. Saya merasa saat itu saya lebih mendominasi pembicaraan, karena dia hanya berbicara beberapa saja. Salah satu bahan obrolan kami adalah rencana masa depan, tak jauh dari masalah menikah dan rencana sekolah lagi. Ketika itu saya dengan bersemangat sekali mengatakan padanya bahwa saya ingin jadi seorang internist. Dan ketika saya balik tanya padanya tentang rencananya untuk mengambil spesialis selepas lulus dokter, herannya dia malah menjawab tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadi spesialis. Cukup jadi dokter umum saja, pulang ke kampung, praktek di sana, dan tidak akan pernah lagi jauh dari ibu. Simpel, satu kata itu yang terpikir oleh saya saat itu. Di saat teman-teman saya, terutama yang cowok/laki-laki ingin jadi spesialis bedah, obsgin, anestesi, dll, tapi dia hanya berpikir seperti itu.
Setelah kejadian itu, sering sekali saya merenungi percakapan kami yang telah lalu itu. Panjang sekali saya memikirkannya, apa sebenarnya makna perkataan temanku itu. Sampai suatu titik, saya berhasil menemukan ”pencerahan” bagi diri saya. Ya, saya harus berpikir simpel. Itu kuncinya. Selama ini ternyata saya terlalu ambisius, ngoyo, dan melupakan keindahan makna kata ”proses”. Sekali lagi saya bercermin kepadanya, dia sehari-hari sangat menikmati perannya sebagai mahasiswa, tetapi tidak pula dia menyepelekan tugas-tugasnya. Sedang saya, begitu stres, serius, kadang kurang menikmati peran sebagai mahasiswa karena terlalu banyak deadline yang harus saya penuhi.
Saat ini pikiran saya berusaha saya simpelkan. Begini pikiran saya: sebagai seorang wanita sebenarnya peran yang penting untuk saya ambil hanyalah peran sebagai seorang anak dan anggota keluarga yang baik (indikasinya=semoga Allah membimbing saya untuk senantiasa berbakti kepada ibu-bapak, mengasihi keluarga, dan semoga Allah memudahkan saya dalam menuntut ilmu sehingga bisa jadi dokter umum yang membawa manfaat banyak bagi masyarakat), kemudian peran yang kedua sebagai seorang istri kelak untuk suami saya (indikasinya=menjadi istri sholehah, menjaga kehormatan keluarga, suami, dan diri sendiri), kemudian peran yang terakhir adalah sebagai seorang ibu bagi putra-putri saya kelak (indikasinya=mendidik anak sedini mungkin dengan ajaran akhlak mulia dan mengenalkan RabbNya sedini mungkin kepada mereka, bahkan mungkin dari saat ini, saat saya belum menjadi ibu). Yap, cukup itu, peran utama saya. Peran yang lain, misalnya mungkin jika di suatu hari Allah mengizinkan saya untuk bisa menjadi internist atau spesialis yang lain, atau menjadi dosen, bu lurah, bu camat, menteri kesehatan, dll (hehehe) itu saya anggap adalah peran tambahan yang Allah percayakan dan hadiahkan kepada saya. Tetap saya harus mengutamakan 3 peran utama di atas yang telah saya sebutkan.
Hah, akhirnya, keegoisan dan ambisi saya sudah saya lebur. Hanya berawal dari percakapan di sore hari yang mendung itu, dan hanya dari beberapa kata-kata simpel yang keluar dari seorang sahabat yang menurut dia dirinya sangat biasa, tapi bagi saya dia sangat luar biasa. Karena kesederhanaanya-lah dia mampu memberikan cermin jernih untuk saya berkaca agar tidak selalu mendongak terlalu tinggi ke atas. Namun, di sini saya tegaskan lagi, tidak salah bahwa seseorang mempunyai cita-cita, setinggi apapun. Namun jangan lupa sesekali sejenak merenung dan mengevaluasi diri dan bertanya, masih sanggupkah saya untuk meraihnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar