"Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, energi hanya bisa berubah bentuk atau disalurkan dalam bentuk energi yang lain"
Masih ingatkah dengan kalimat di atas?yap, Hukum Kekekalan Energi. Dari kelas V SD hingga SMA kelas 3 aku selalu mengenalnya dan mempelajarinya. Jika di SD masuk IPA, di SMP dan SMA hukum tersebut dalam kategori pelajaran fisika.
Tiba-tiba saja beberapa waktu yang lalu hukum tersebut kembali aku pelajari setelah hampir tiga tahun aku meninggalkannya. Ternyata di kedokteran juga ada aplikasi tentang hukum Kekekalan Energi tersebut. Subhanalloh....sungguh ilmu Allah luas sekali dan luar biasa sekali ilmuwan yang berhasil menemukan hukum tersebut. Pasti pintar sekali ilmuwan tersebut....:)
Hari kamis seperti biasa aku berangkat ke kampus, entahlah, walaupun sudah tidak ada jadwal kuliah lagi, aku merasa ingin ke kampus. Aku sudah berplanning akan melihat sidang hasil KTI kakak-kakak angkatan 2007, kebetulan hari itu jadwalnya mikrobiologi. Lumayan, bisa mengambil sedikit referensi, kebetulan dosen pembimbing KTI ku nanti dalam sidang bertindak sebagai penguji.
Sidang berjalan cukup menarik, penguji I yang notabene adalah dosen pembimbingku kelak insyaAlloh, tadi sungguh luar biasa. Beliau teliti sekali dalam mengkritik...teman-teman yang datang melihat sidang sampai-sampai berkomentar "Wah pintar sekali ibunya"....
Bayangkan saja, sampai-sampai dosen pembimbingku tadi berkata pada kakak kelas yang sedang diuji beliau,
"Tenang saja dek, walaupun saya cerewet kaya gini, saya kalau ngasih nilai murah koq"...
Aku yang di pojokan hanya nyengir kecut sambil kulirik kakak kelas tadi yang sedang diuji. Sekilas, mukanya yang tadinya kelihatan kaku karena tegang dan pusing dengan pertanyaan penguji, setelah mendengar gurauan dari dr.HF tersebut air mukanya sedikit melumer dan senyum tipis tersungging di pipinya..ah, akhirnya kebekuan sedikit cair...
Di sebelahku ada Laras, temanku yang asli dari Ungaran. Tapi aku dan teman-teman yang lain punya panggilan sayang untuknya "Tante Laras", "Laruso", "Tante", ya seperti itulah...Kusapa Laras,
"Tante,,habis nonton KTI mau kemana?"
"Mau ada kuliah bedah, jat"
"Hah?jam berapa?dosennya siapa?"
"Habis ini, jam 10.20, kuliah thoraks, dr.SF"
"Wah...aku mau nyusup tante...ikut ya...aku kangen kuliah bedah"
"Iya..iya jati boleh koq..."
"Wah asik....eh Pak WW udah kasih kuliah ya?"
"Udah jati...kemaren, tapi cuma satu jam pelajaran."
"Yah... sayang sekali tante"
"Wah kita WWFC ya....(Pak WW Fans Club)"
Percakapan yang ringan tapi selalu saja mengundang tawa antara aku dan laras. Ya, kami WWFC. Sebutan bagi para mahasiswa yang ngefans dengan salah satu dosen bedah kami. haha, dan sebenarnya anggota WWFC cuma 2 orang, yaitu aku dan laras. Dasar orang aneh.
Akhirnya, aku ikut kuliah sisipan bedah, tepatnya sebagai penyusup.hehehe.."Kan ngga bayar...", begitu kata laras.
"Tante...koq pak WW ikut ya?" sejenak aku dan laras kaget karena ternyata pak WW ikut mendampingi dr.SF dalam memberikan kuliah.
"Wah iya jati...kita beruntung sekali ya..."
"hahaha", kita tertawa bersama.
Kuliah dr.SF tentang trauma thoraks, teman-teman di kelas yang sadar ada orang asing yang masuk di kelas mereka hari ini langsung komentar,
"hei, jat, ngapain kamu disini?"
"ehm...aku nyusup bedah, sambil nunggu mau nonton KTI lagi nanti jam 12."
Laras langsung nyengir, dan berbisik lirih, "Dasar,...alasan"
"Hei tante...jangan bilang siapa-siapa tentang alasanku yang sebenarnya lho...", aku mengancamnya lagi.h
ehehe
Selalu saja jika aku kuliah bedah akan terpana, menemukan sesuatu yang baru...Hari ini ya tentang hukum kekekalan energi tersebut. Karena trauma toraks paling banyak dialami oleh laki-laki pada usia produktif dan sebagian besar diakibatkan oleh KLL (kecelakaan lalu lintas), maka pada kuliah hari tersebut sedikit menyinggung tentang mekanisme tumbukan pada KLL.
dr. SF menjelaskan bahwa pada peristiwa tumbukan antara mobil kecepatan 80 km/jam dengan tembok akan terjadi 3 jenis tumbukan. Tumbukan yang pertama antara mobil dengan tembok. Tumbukan yang kedua antara dada/thoraks/sternum dengan stir mobil, atau dahi dengan kaca mobil, atau kaki dengan dashboard. Sedangkan tumbukan yang terakhir antara tulang-tulang vertebrae dengan isi rongga thoraks. Sesaat setelah tumbukan, kecepatan mobil menjadi 0 km/jam, namun kecepatan tersebut akan masih ada pada tubuh si pengendara sehingga tubuh si pengendara dapat meluncur ke depan secara bebas dan menimbulkan mekanisme tumbukan yang kedua, dengan energi kinetik yang cukup besar (1/2 mv2), hitung sendiri ya, dengan kecepatan 80 km/jam tadi dan massa orangnya misal 70 kg.
Misal, setelah dihitung ternyata energi kinetik yang terjadi pada mekanisme tumbukan kedua tersebut sebesar 500 joule, maka energi tersebut tidak hilang begitu saja setelah tumbukan selesai. Energi tersebut bisa berubah ke bentuk energi yang lain, misalnya energi sebesar 500 joule pada tumbukan jenis kedua ini mampu mematahkan tulang tibia dekstra displaced yang terbentur dashboard mobil...oh gitu ya...aku baru tahu.ckckck
Apakah energi 500 joule tersebut jalan ceritanya hanya sampai disitu? Subhanalloh,,ternyata tidak. Do you know? ternyata jika si korban kecelakaan yang patah tulang tibia dekstra displaced tersebut dibawa ke RS dan dilakukan reposisi untuk mengembalikan kedudukan tulang seperti pada asalnya, misal digunakan traksi (jika fraktur tulang tertutup_red), maka energi yang diperlukan untuk traksi sehingga tulang bisa kembali dalam kesegarisan (in line) yang baik setelah reposisi adalah sama dengan energi yang diperlukan untuk mematahkan dan menggeser fragmen tibia tadi saat terjadi kecelakaan, tidak lain dan tidak bukan sebesar 500 joule, tidak kurang dan tidak lebih.
Wah...energi keren sekali ya? Ternyata sudah dibuktikan bahwa belajar teori hukum kekekalan energi sejak lama bukan jaminan bahwa orang tersebut mengerti. Semua kembali kepada penalaran dan pemahaman memang. Terima kasih dr.SF, hari ini aku kembali terpana dengan ilmu Allah SWT..
Di akhir kuliah, aku masih bermimpi dan berangan untuk bisa seperti dosen-dosenku yang keren itu......amin ya Rabb...:-)
Masih ingatkah dengan kalimat di atas?yap, Hukum Kekekalan Energi. Dari kelas V SD hingga SMA kelas 3 aku selalu mengenalnya dan mempelajarinya. Jika di SD masuk IPA, di SMP dan SMA hukum tersebut dalam kategori pelajaran fisika.
Tiba-tiba saja beberapa waktu yang lalu hukum tersebut kembali aku pelajari setelah hampir tiga tahun aku meninggalkannya. Ternyata di kedokteran juga ada aplikasi tentang hukum Kekekalan Energi tersebut. Subhanalloh....sungguh ilmu Allah luas sekali dan luar biasa sekali ilmuwan yang berhasil menemukan hukum tersebut. Pasti pintar sekali ilmuwan tersebut....:)
Hari kamis seperti biasa aku berangkat ke kampus, entahlah, walaupun sudah tidak ada jadwal kuliah lagi, aku merasa ingin ke kampus. Aku sudah berplanning akan melihat sidang hasil KTI kakak-kakak angkatan 2007, kebetulan hari itu jadwalnya mikrobiologi. Lumayan, bisa mengambil sedikit referensi, kebetulan dosen pembimbing KTI ku nanti dalam sidang bertindak sebagai penguji.
Sidang berjalan cukup menarik, penguji I yang notabene adalah dosen pembimbingku kelak insyaAlloh, tadi sungguh luar biasa. Beliau teliti sekali dalam mengkritik...teman-teman yang datang melihat sidang sampai-sampai berkomentar "Wah pintar sekali ibunya"....
Bayangkan saja, sampai-sampai dosen pembimbingku tadi berkata pada kakak kelas yang sedang diuji beliau,
"Tenang saja dek, walaupun saya cerewet kaya gini, saya kalau ngasih nilai murah koq"...
Aku yang di pojokan hanya nyengir kecut sambil kulirik kakak kelas tadi yang sedang diuji. Sekilas, mukanya yang tadinya kelihatan kaku karena tegang dan pusing dengan pertanyaan penguji, setelah mendengar gurauan dari dr.HF tersebut air mukanya sedikit melumer dan senyum tipis tersungging di pipinya..ah, akhirnya kebekuan sedikit cair...
Di sebelahku ada Laras, temanku yang asli dari Ungaran. Tapi aku dan teman-teman yang lain punya panggilan sayang untuknya "Tante Laras", "Laruso", "Tante", ya seperti itulah...Kusapa Laras,
"Tante,,habis nonton KTI mau kemana?"
"Mau ada kuliah bedah, jat"
"Hah?jam berapa?dosennya siapa?"
"Habis ini, jam 10.20, kuliah thoraks, dr.SF"
"Wah...aku mau nyusup tante...ikut ya...aku kangen kuliah bedah"
"Iya..iya jati boleh koq..."
"Wah asik....eh Pak WW udah kasih kuliah ya?"
"Udah jati...kemaren, tapi cuma satu jam pelajaran."
"Yah... sayang sekali tante"
"Wah kita WWFC ya....(Pak WW Fans Club)"
Percakapan yang ringan tapi selalu saja mengundang tawa antara aku dan laras. Ya, kami WWFC. Sebutan bagi para mahasiswa yang ngefans dengan salah satu dosen bedah kami. haha, dan sebenarnya anggota WWFC cuma 2 orang, yaitu aku dan laras. Dasar orang aneh.
Akhirnya, aku ikut kuliah sisipan bedah, tepatnya sebagai penyusup.hehehe.."Kan ngga bayar...", begitu kata laras.
"Tante...koq pak WW ikut ya?" sejenak aku dan laras kaget karena ternyata pak WW ikut mendampingi dr.SF dalam memberikan kuliah.
"Wah iya jati...kita beruntung sekali ya..."
"hahaha", kita tertawa bersama.
Kuliah dr.SF tentang trauma thoraks, teman-teman di kelas yang sadar ada orang asing yang masuk di kelas mereka hari ini langsung komentar,
"hei, jat, ngapain kamu disini?"
"ehm...aku nyusup bedah, sambil nunggu mau nonton KTI lagi nanti jam 12."
Laras langsung nyengir, dan berbisik lirih, "Dasar,...alasan"
"Hei tante...jangan bilang siapa-siapa tentang alasanku yang sebenarnya lho...", aku mengancamnya lagi.h
eheheSelalu saja jika aku kuliah bedah akan terpana, menemukan sesuatu yang baru...Hari ini ya tentang hukum kekekalan energi tersebut. Karena trauma toraks paling banyak dialami oleh laki-laki pada usia produktif dan sebagian besar diakibatkan oleh KLL (kecelakaan lalu lintas), maka pada kuliah hari tersebut sedikit menyinggung tentang mekanisme tumbukan pada KLL.
dr. SF menjelaskan bahwa pada peristiwa tumbukan antara mobil kecepatan 80 km/jam dengan tembok akan terjadi 3 jenis tumbukan. Tumbukan yang pertama antara mobil dengan tembok. Tumbukan yang kedua antara dada/thoraks/sternum dengan stir mobil, atau dahi dengan kaca mobil, atau kaki dengan dashboard. Sedangkan tumbukan yang terakhir antara tulang-tulang vertebrae dengan isi rongga thoraks. Sesaat setelah tumbukan, kecepatan mobil menjadi 0 km/jam, namun kecepatan tersebut akan masih ada pada tubuh si pengendara sehingga tubuh si pengendara dapat meluncur ke depan secara bebas dan menimbulkan mekanisme tumbukan yang kedua, dengan energi kinetik yang cukup besar (1/2 mv2), hitung sendiri ya, dengan kecepatan 80 km/jam tadi dan massa orangnya misal 70 kg.
Misal, setelah dihitung ternyata energi kinetik yang terjadi pada mekanisme tumbukan kedua tersebut sebesar 500 joule, maka energi tersebut tidak hilang begitu saja setelah tumbukan selesai. Energi tersebut bisa berubah ke bentuk energi yang lain, misalnya energi sebesar 500 joule pada tumbukan jenis kedua ini mampu mematahkan tulang tibia dekstra displaced yang terbentur dashboard mobil...oh gitu ya...aku baru tahu.ckckck
Apakah energi 500 joule tersebut jalan ceritanya hanya sampai disitu? Subhanalloh,,ternyata tidak. Do you know? ternyata jika si korban kecelakaan yang patah tulang tibia dekstra displaced tersebut dibawa ke RS dan dilakukan reposisi untuk mengembalikan kedudukan tulang seperti pada asalnya, misal digunakan traksi (jika fraktur tulang tertutup_red), maka energi yang diperlukan untuk traksi sehingga tulang bisa kembali dalam kesegarisan (in line) yang baik setelah reposisi adalah sama dengan energi yang diperlukan untuk mematahkan dan menggeser fragmen tibia tadi saat terjadi kecelakaan, tidak lain dan tidak bukan sebesar 500 joule, tidak kurang dan tidak lebih.
Wah...energi keren sekali ya? Ternyata sudah dibuktikan bahwa belajar teori hukum kekekalan energi sejak lama bukan jaminan bahwa orang tersebut mengerti. Semua kembali kepada penalaran dan pemahaman memang. Terima kasih dr.SF, hari ini aku kembali terpana dengan ilmu Allah SWT..
Di akhir kuliah, aku masih bermimpi dan berangan untuk bisa seperti dosen-dosenku yang keren itu......amin ya Rabb...:-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar