BABI
PENDAHULUAN
Kanker Kolorektal adalah kanker yang ditemukan di traktus gastrointestinal, tepatnya di mukosa kolon (usus besar) dan rectum. Kanker kolorektal disebabkan antara lain oleh konsumsi pangan tinggi lemak, rendah serat (dietary fiber), konsumsi alcohol, faktor polip di sekitar kolon dan rectum, serta ditemui pula penderita kanker kolorektal yang diturunkan lewat jalur genetik.
Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara maju saat ini. Penyakit tersebut paling banyak ditemukan di
Secara epidemiologis, kanker kolorektal menempati urutan ke-2 penyebab kematian akibat kanker di Amerika Serikat. Lebih dari 150.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya di Amerika Serikat dengan angka kematian per tahun mendekati angka 60.000. Di Indonesia, seperti yang terdapat pada laporan registrasi kanker nasional yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Medik Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Patologi Anatomi
Semua ini kembali pada perilaku dan kebiasaan orang terutama yang hidup di perkotaan. Mereka sangat terbatas oleh waktu, sangat mobile dan sibuk. Sehingga apapun yang mereka lakukan cenderung bersifat praktis, bahkan sampai masalah pemilihan menu makanan. Menu makanan fast food, junk food pun menjadi pilihan. Padahal di sanalah awal lingkaran setan. Makanan yang rendah serat ini namun kaya akan kalori serta lemak. Akibatnya, berbagai penyakit menghampiri salah satunya kanker kolorektal.
Namun, perilaku konsumsi makanan rendah serat bukan semata-mata akibat perubahan life style tetapi dapat juga karena kebiasaan makan yang salah ditanamkan sejak kecil. Hal ini dapat dipahami, dalam Gizi dalam Daur Kehidupan dipaparkan bahwa awal suka dan ketidaksukaan anak terhadap makanan tertentu ditetukan pada masa sekolah (6-12 tahun). Oleh karena itu, peran orang tua di sini menjadi sangat penting. Orang tua perlu member informasi dan membiasakan anak untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan seimbang nilai gizinya.
Oleh karena pola perilaku konsumsi kurang serat erat kaitannya dengan terjadinya kanker kolorektal, maka akan dibahas lebih rinci mengenai hubungan antara keduanya dalam bab selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kanker Kolorektal
Patogenesis
Hampir semua karsinoma kolorektal berasal dari polip, terutama polip adenomatosa. Ini disebut “adenoma-carcinoma sequence”. Menurut P. Deyle, perkembangan dibagi atas tiga fase. Fase pertama adalah fase karsinogen dimana terjadi rangsangan. Fase kedua ialah fase dengan tumbuhnya tumor, akan tetapi belum menimbulkan keluhan. Dinamakan fase asimtomatis tumor. Kemudian fase ketiga dengan mulai timbulnya keluhan dan gejala. Karena keluhan gejala timbulnya perlahan-lahan dan tidak sering, maka biasanya penderita merasa terbiasanya dan dianggap enteng saja. Semua ini menyebabkan penderita biasanya datang berobat bila sudahdalam stadium lanjut.
Gambaran Klinik
Karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi atau perdarahan, menimbulkan obstruksi bila membesar atau menembus (invasi)ke seluruh dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses di peritoneum. Keluhan dan gejala tergantung juga dari lokasi dan besarnya tumor. Tumor di kolon sebelah kanan biasanya dapat tumbuh sampai besar sebelum dapat meimbulkan tanda-tanda obstruksi, karena lumennya lebih besar daripada yang sebelah kiri dan juga karena dindingnya leih mudah melebar.
Metastasis (penyebaran) kanker kolorektal biasanya melalui saluran limfe (getah bening) ke kelenjar regional terlebih dahulu. Metastasis melalui darah ke hepar menimbulkan pembesaran hepar yang berbenjol-benjol, nyeri tekan, dan juga bisa terjadi ikterus (jaundice). Metastasis ke paru-paru menimbulkan batuk, akan tetapi tidak sering terjadi.
B. Serat Makanan (Dietary fibre)
Serat makanan dapat didefinisikan berdasarkan dua aspek, yaitu definisi fisiologis dan definisi kimia.
a. Definisi fisiologis: Serat makanan adalah sisa yang teringgal dalam kolon setelah makanan dicerna atau setelah protein, lemak, hidrat arang, vitamin, dan mineral dari makanan yang dari tumbuhan diserap. Sisa tersebut disebutkan oleh karena tidak mempunyai enzim yang dapat mencerna serat tersebut.
b. Definisi kimia: serat makanan adalah polisakarida nonpati, yaitu karbohidrat kompleks yang terbentuk dari beberapa gugusan gula sederhana yang bergabung menjadi satu.
Terminology serat makanan (dietary fiber) sebenarnya berbeda dengan istilah serat kasar (crude fiber), yang juga biasanya erikut dalam analisis proksimat bahan makanan. Yang dimaksud crude fiber adalah adalah bagian tanaman yang tidak dapat dihidrolisis dengan menggunakan pelarut asam sulfat(H2SO4) 1,25% dan alkali Natrium Hidroksida (NaOH) 1,25%.
Sedang dietary fiber adalah bagian dari bahan pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan.
Serat makanan mempunyai pengaruh dan manfaat yang mengunungkan diantaranya:
- Mengurangi waktu transit makanan di kolon
- Menunda kosongnya lambung dan mengakibatkan pengurangan tingginya gula darah setelah makan.
- Meningkatkan kepuasan makan.
- Meningkatkan berat feces.
- Meningkatkan sekresi pancreas.
- Menguntungkan pertumbuhan mikroflora usus.
- Meningkatkan produksi asam lemak rantai pendek.
- Menurunkan serum lipid
- Meningkatkan cairan empedu
Sumber Serat
Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi serat masyarakat
Sayur-sayuran dan buah-buahan adalah sumber serat makanan yang sangat mudah ditemukan dalam bahan makanan. Sayuran dapat dikonsumsi dalam bentuk mentah maupun setelah melalui proses perebusan.
Diet Tinggi Serat untuk Mencegah Kanker Kolon
Kandungan lemak yang rendah dan konsumsi serat yang tinggi seperti pada pola makan vegetarian diketahui menyebabkan rendahnya insiden terjadinya kanker kolorektal. Lemak dalam kolon rectum dipecahkan oleh bakteri dan menghasilkan beberapa asam empedu, antara lain: deoxycholic acid dan lithocholic acid. Kedua asam empedu tersebut merupakan suatu ko-karsinogenesis atau promoter dalam proses karsinogenesis, berarti membantu serta mempercepat timbulnya karsinoma. Selain itu, makanan dengan sedikit dietary fiber, akan lebih lama berada di saluran cerna sebelum dikeluarkan dari badan sebagai faeces. Ini disebut transit time atau waktu transit yang panjang. Dengan demikian, kontak kedua asam empedu tersebut dengan mukosa kolon rectum berlangsung lebih lama atau rangsangan pada mukosa berlangsung lama.
Sebaliknya, makanan dengan banyak dietary fibre membuat faeces lebih lunak dan lebih voluminous, sehingga transit time lebih pendek. Dietary fibre juga menyerap kedua asam empedu tersebut selain menyerap air, sehingga konsentrasi asam empedu yang dapat merangsang terjadinya kanker kolorektal menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, dietary fibre dapat melindungi dan mencegah timbulnya karsinoma atau mengurangi kemungkinan timbulnya karsinoma kolorektal.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Analisis
Konstipasi kronis mempunyai peluang untuk berkembang menjadi kanker kolorektal. Ini disebabkan oleh tertumpuknya karsinogen di permukaan kolon akibat tinja yang keras, kering, dan lambatnya gerak pembuangan. Konsumsi serat yang cukup akan mempercepat transit faeces dalam saluran pencernaan sehingga kontak antara kolon dengan berbagai zat karsinogenik yang terbawa dalam makanan lebih pendek, dengan demikian mengurangi peluang terjadinya kanker kolorektal. Transit makanan yang lebih cepat juga mengurangi kecepatan eragai mikroorganisme dalam kolon untuk membentuk zat karsinogen.
B. Saran
· Pola makan sehat dan seimbang perlu ditanamkan dan dibiasakan sejak kecil. Salah satunya pola makan tinggi serat dan rendah lemak. Dalam hal ini peran orang tua menjadi sangat penting untuk mendukung keberhasilan langkah ini.
· Meskipun tidak mengandung zat gizi, peranan serat makanan sangat penting. Jika konsumsi serat makanan yang sehari-hari masih jauh dari yang dianjurkan, dapat ditambah dengan serat yang banyak dipasarkan dalam bentuk kemasan. Namun penggunaannya harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan, sebab serat juga mempunyai efek yang tidak baik, misalnya dapat mengurangi ketersediaan beberapa zat gizi. Fungsi serat yang dapat mengikat asam empedu, juga mengurangi penyerapan lemak sehingga vitamin larut lemak (vit D) juga akan terhambat penyerapannya.
· Perlu diusahakan untuk menegakkan diagnosis sedini mungin, karena karsinoma dini dapat disembuhkan atau paling tidak bisa dihambat penyebarannya.
· Anamnesis yang teliti, terutama mengenai perubahan pola buang air besar yang berlangsung cukup lama seperti mula-mula normal, kemudian menjadi diare atau obstipasi. Apalagi bla disertai darah merah segar.
· Apabila pasien sudah menunjukkan gejala dan tanda, perlu cepat dirujuk untuk pemeriksaan endoskopiatau foto rontgen.
· Pengobatan karsinoma kolorektal dapat dengan cara pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Pembedahan selain untuk membuang karsinoma juga bertujuan untuk mencegah metastasis karsinoma ke jaringan atau organ lain dengan cara mengiris seluruh kelenjar limfe yang terletak pada mesenterium sepanjang aliran arteri kolon pada segmen kolon.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, dr. Sunita. 2006. Penuntun Diet.
Cermin Dunia Kedokteran vol 147. Diet Sehat dengan Serat (hal. 43-46).
Khomsan, Ali. 2004. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kulitas Hidup.
Majalah Kedokteran Damianus Vol 8 Nomor 3. Obesitas dan Risiko Kanker Kolorektal (hal 163-167).
Miranda Varona, Blacenda. 2003. Makanan penyembuh Ajaib.
Powell,L. 1989. Dasar Gastrenterologi Hepatologi.
Simadibrata, R. Ilmu Penyakit Dalam “Karsinoma Kolorektal” (hal 228-233).
Smith, Y. Edi. 2002. Terapi Sayuran.
Soeparman. 1993. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
Sulaiman, H. Ali. 1990. Gastroenterologi Hepatologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar