Tepat satu abad yang lalu di gedung eks-Stovia, dibentuklah suatu organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan mempersatukan bangsa ini. Sebagai pembentuk pondasi sejarah perjuangan bangsa. Budi Utomo, yang dipelopori dr. Sutomo dan kawan-kawan, telah mempelopori sebuah wadah perjungan nasional yang menggantikan perjuangan-perjuangan yang bersifat sporadic dan kedaerahan, dengan didasari oleh keinginan yang tulus memajukan martabat bangsa ini.
Merupakan fakta sejarah, bahwa dalam sejarah pergerakan nasional, para dokter bumi putera telah menunjukkan perannya tidak hanya sebagai agent of treatment, tetapi berperan pula sebagai agent of change dan agent of development. Para dokter saat itu adalah kalangan yang paling mengetahui keadaan dan kondisi rakyat
Seiring perjalanan kehidupan bangsa ini, telah terjadi reduksi peran dokter yang ditandai dengan rutinitas profesionalisme yang sempit, membuat profesi yang sarat akan prinsip kesetaraan dan nilai perjuangan ini menjadi sebuah profesi yang berorientasi pada mata pencaharian semata, yang selanjutnya berujung pada berbagai kepentingan finansial.
Penanaman nilai luhur dan tanggung jawab moral ini sedari awalnya mestilah dilakukan dalam tingkat keprofesian ini, yang dalam hal ini, ialah semenjak dikalangan mahasiswa kedokteran. Perlulah ditanamkan suatu paradigma, dimana aplikasi peran dokter harus berorientasi tidak hanya berkutat pada masalah-masalah bagaimana menyembuhkan penyakit, namun juga bagaimana dokter seharusnya berperan sebagai agent of change maupun agent of development di masyarakat.
Mahasiswa pada umumnya, termasuk mahasiswa kedokteran sendiri ialah sosok intelektual yang semstinya menjunjung tinggi nilai dan prinsip-prinsip idealisme secara keseluruhan, dengan tidak melupakan nilai dan prinsip dari sumpah dokter (hipocrates oath) secara utuh ditengah tanggung hjawab akademiknya. Nantinya, diharapkan muncul sosok “the five star Doctor” di masa depan.
Sebagai sosok mahasiswa, para mahasiswa kedokteran memang telah menunjukkan pengabdiannya kepada masyarakat secara langsung melalui berbagai macam kegiatan seperti bakti social sebagai salah satu contohnya. Pengabdian semacam ini sangta bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya sekaligus meningkatkan kemampuan kompetensi kedokteran di kalangan mahasiswa itu sendiri, dan menunjukkan kepedulian secara langsung sebagai mahasiswa yang peduli.
Namun saat ini, mahasiswa kedokteran seharusnya tidak hanya menunjukkan sisi pragmatis pengabdiannya ansich melalui pendekatan cultural tetapi melaui momentum kebangkitan nasional saat ini, mahasiswa kedokteran terlebih dahulu perlu memiliki kesamaan visi untuk apa yang akan dilakukan ke depannya, penerus cita-cita pendahulunya sebagai”dokter penyembuh bangsa”. Momentum ini, tidak hanya akan berdampak dalam kurun waktu tahun ini pada mahasiswa kedokteran sendiri, namun dapat menjadi autokritik bagi para dokter saat ini yang telah mangabaikan nilai dan prinsip kesetaraan dalam sumpah dokter, juga gaung dari pernyataan deklarasi ini diharapkan akan menjadi penyulut api semangat bagi para stakeholder untuk mengedepankan berbagai kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar