Minggu, 01 September 2013

Allah Sang Maha Cinta

Suatu saat mencintai adalah mengumpulkan tabiat seseorang yang menyebalkan, kau memakinya, menyumpahinya, dan berjanji akan meninggalkannya. Namun kenyataannya? Kau tidak akan pernah benar bisa benar-benar meninggalkannya. (Kutipan berdasarkan ingatan dari Tasaro GK). 

Bila benar ada sesuatu yang paling sulit dan rumit didefinisikan dalam hidup, mungkin salah satunya saya sebut cinta. Seringkali perasaan buta membedakan antara yang mana yang benar-benar suka, sayang, bahkan benci dengan si cinta itu. Ah, saya sebel sekali sebenarnya, menulis ini. Saya sebel harus nulis melow dan tentang cinta pula topiknya. Karena sebenarnya cinta yang saya pahami dan rasakan luas sekali maknanya, dalam dinamikanya, ada hal kontra dari sifat cinta, tapi tetap saja akan berujung pada cinta. Nah lho, bingung kan? Tidak sekadar cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki yang tidak pernah sama sekali mengingatnya, memperhatikannya, apalagi mencintainya, namun si wanita ini tetap merindukannya setiap hari dan berharap di episode masa datang si lelaki akan menjelma menjadi belahan jiwanya. Bukan itu. Kembali coba, baca lagi kutipan kalimat yang saya tulis. Ada rumus cinta di kutipan itu. Cinta-->sebal, memaki, menyumpahi-->cinta.

Rumus ini secara sadar atau tidak sadar, berlaku pula pada cinta-cinta yang lain. Cinta orang tua kepada anaknya misalnya. Sudah berapa kali dalam hidup kita membuat kecewa, marah, dongkol orang tua kita? Dan sudah berapa kali orang tua tercinta mengabulkan rengekan permintaan kita, mencukupi kebutuhan sekolah dan harian kita setelah kita membuatnya marah, dongkol, dan kecewa? Jika dihitung, maka yang kedua jumlahnya lebih banyak daripada yang pertama. Itulah cinta, anggun dan mengena dalam hati. Ikhlas dan jauh dari pamrih.

Lantas apalagi? Ingatkah engkau kepada Tuhan-Mu? Dia lah Dzat yang menciptakanmu dari rahim ibumu dengan segala kelemahan dan ketidaktahuan, lalu dengan kuasa Nya, dia memampukanmu dengan potensi ilmu pengetahuan dan mempertahankan hidup setelah dewasa? Lalu dengan khasnya sebagai hamba, kita melakukan dosa sehari-hari, dari yang kecil bobotnya hingga mungkin dosa besar. Saat itu Allah mungkin murka. Tapi karena cinta Nya, Dia berjanji menyediakan lautan maaf seluas langit dan bumi jika kita bertaubat. Bahkan, jika melihat hambaNya meminta maaf, Allah bukannya meluapkan kemarahanNya, namun justru bahagia. Rasulullah pernah mengumpamakan keadaan ini dalam hadistnya:
"Sungguh Allah lebih bahagia dengan tobat hambaNya tatkala ia bertobat kepadaNya daripada kebahagiaan salah satu dari kalian yang sedang bersama tunggangannya di padang pasir lalu tiba-tiba tunggangannya itu hilang, padahal makanan dan minumannya berada di tunggangannya itu. Ia putus asa dengan tunggangannya itu, lalu mendatangi sebuah pohon dan kemudian berbaring di bawah pohon tersebut. Saat itulah tiba-tiba tunggangannya muncul kembali lengkap dengan perbekalannya. Maka, ia pun segera memegang tali kekang tunggangannya itu, lalu ia berkata karena sangat gembiranya, 'Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu'. Ia salah berucap karena sangat bahagianya" (HR Muslim)

Maka sesungguhnya, cinta Allah jauh lebih besar dari cinta seseorang kepada apapun dan siapapun ;). Believe it!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar