Sudah saya buktikan bahwa jarak mampu membangkitkan rasa kangen akut yang biasanya tidak muncul. Ahaha :D Masih ingat dengan mas saya yang dulu pernah juga jadi bahan posting? Ya, alhamdulillah sejak Februari tahun 2012 dia diterima sebagai karyawan sebuah perusahaan BUMN. Setelah hampir 4 bulan menjalani tes dengan sistem gugur, yang kalau tidak salah jika dihitung ada 6 tes tahapan. Sejak saat itu mas saya resmi menjadi "anak perantauan". Selama dua bulan, mas saya menjalani masa percobaan di Lampung. Setelah itu, nanti akan ditempatkan di Unit Usaha yang berada di Lampung, Sumatra Selatan, atau Bengkulu.
Tidak bisa dibayangkan setelah hampir 21-23 bulan pasca wisuda S1 menganggur, dan setelah 27 tahun menjadi "anak rumahan" yang tidak pernah jauh dari ibu dan nini (nenek), sekarang harus mandiri. Ibu dan saya sempat ragu, tapi mas berhasil meyakinkan kami bahwa inilah tujuan yang selama ini dicari, yaitu mandiri secara finansial, tidak tergantung lagi dengan ibu. So, kehidupan rantau pun akan ditempuh dengan tekad yang kuat. Saya jadi ingat, saat pertama kali pengumuman diterima, saya menangis. Bahagia sekaligus sedih. Sedih karena mas yang biasa jadi "tukang ojek" saya sudah tidak ada lagi. Tidak ada yang menemani ke toko buku, ke pantai, ke kantor pos, ke supermarket,,ah seediiihhh ;(
Dua bulan pertama masa percobaan, saya sering sewot. Bayangkan saja, mas tidak pernah menelepon bahkan meng-sms saya sekedar tanya kabar. Kalau saya kangen, saya yang harus sms duluan, sambil mengharap ada pengertian dari dia untuk menelepon balik adiknya tercinta ini yang sedang kangen akut dan berada di ujung kota Semarang. Lama-kelamaan saya jadi males, males untuk sms lagi. Toh kalau sms juga dibalesnya singkat, ga tanya kabar balik ke saya lagi..uhh sebel. Saya curhat ke teman saya yang sama-sama punya kakak laki-laki dan jauh dari rumah juga. Kata teman saya memang kalau kakak cowok seperti itu, dia juga paling di sms kakaknya sebulan sekali. Ohh agak lega.. Sempat geli juga tahu kalau ibu sering mengiba agar mas mau menelepon saya dan ngobrol selayaknya kakak dan adik pada umumnya. Namun, ya hanya kayak angin lalu saja. Selalu saja saya yang meng-sms duluan. Pikiran saya, mas saya sudah tidak peduli lagi, tidak ingat saya. Atau mas saya sekarang jadi pelit..ahh su'udzon terus jadinya.
Tapi semenjak melewati masa percobaan dan akhirnya mas ditempatkan di Muara Enim Sumsel, dia jadi sering menelepon saya. Menanyakan kabar, mengobrol. Mungkinkah dia juga kangen saya? :) Pernah saya waktu itu, entah kangen, atau terbawa suasana karena sedang PMS, saya menangis, pengin sekali ketemu mas. Saya sms tanya kabar, dibalas. Terus tidak lama kemudian ditelepon, duh senangnya !! Akhirnya meluaplah tangisan di telepon,..setelah telepon ditutup, alhamdulillah syptoms of kangen akut menghilang. Mood kembali membaik. :D
Ah mas-ku yang ganteng (hehehe), selalu kangen dengan dirimu. Kalau pulang ke rumah ibu, rumah jadi sepi. Tidak ada lagi orang yang suka rebutan channel TV, tidak ada lagi orang yang suka saya tutup hidungnya et causa terlalu banyak tidur.hahaha Tidak ada lagi yang menjuluki saya "Kak Ros" karena saya galak sekali kalau lagi ngepel rumah terus dengan seenaknya mas menginjak lantai yang baru saya pel, juga tidak ada lagi orang yang ndableg & sering saya omelin gara-gara ga pernah mau membersihkan kaki (ber-keset). Ya Allah saya mohon perlindungan untuk mas saya tercinta. Semoga Engkau memudahkan jalannya dalam mencari rezeki yang halal sehingga dapat menjadi sarana ibadah kepadaMu. Semoga menjadi pegawai yang baik, yang selalu bersyukur kepadaMu, yang selalu mengeluarkan zakat saat menerima gaji, yang menjaga amanah dalam bekerja sehingga takut untuk korupsi. Amiin..aamiin ya Rab 'alamin
Love U Mamas :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar