Pertengahan musim kemarau, saat-saat angin berhembus
kencang
Di malam hari bintang berserakan, seperti ceceran butir beras ditumpahkan dari gelas pecah
Bumi dipeluk selimut dingin di kelam malam.
Saat bumi kerontang menangis pilu
Harapan yang dipupuk setinggi gunung, rata setanah-tanah
Awan tak mau tinggalkan sedikit jejaknya
Hujan yang dijanjikan hanya omongan lalu
Terbawa sauh oleh kapal mentari
Sesaat yang lalu, awan setia menaungi bumi kerontang
Bumi terus mengharap, “Ayo..hitamkan langitmu dengan
gundukan awan pembawa rezeki Tuhan”
Awan menyeringai, setengah tak peduli
Dan berlalu
Sembari meninggalkan jejak pesan
Bahwa janjinya tak sepenuhnya untuk bumi saja,.
Bahwa di balik pekat awan di langit kelam, tidak mesti ada
hujan di baliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar