Sabtu, 04 Desember 2010

Kisah Teladan

Salman Al Farisi hendak meminang seorang puteri dari kaum Anshor untuk dijadikannya istri, karena belum terbiasa dengan adapt setempat (ia bukan orang asli Madinah-ed), untuk urusan ini ia meminta bantuan Abu Darda’, sahabat yang telah dijadikannya saudara. Mereka berdua pun berangkat menuju rumah puteri yang dituju. Sesampainya di rumah tujuan, Abu Darda’ memperkenalkan diri, “Saya Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Alloh telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putrid Anda untuk dipersuntingnya”, fasih Abu Darda’ berbicara dengan logat Bani Najjar yang paling murni.

Setelah terjadi perundingan, tiba saatnya sang puteri angkat bicara untuk menentukan apakah ia mau atau tidak untuk menerima tawaran Salman. Melalui ibunya, sang puteri tersebut memberikan jawaban yang sungguh mengagetkan, ternyata ia lebih memilih Abu Darda’ menjadi suaminya daripada Salman. Sang puteri ternyata lebih tertarik pada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Bayangkan sebuah perasaan, dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Namun bagaimana reaksi Salman ketika itu? “Allohu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian.

Sobat, barangkali inilah yang sering dikatakan orang bahwa Cinta tak harus memiliki. Hiks…dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, dan juga sedih. Ini tak mudah. Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Maka menjadi manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti tukang parker yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki terkadang menjadi sulit untuk ditepis. Kisah ini juga membuktikan bahwa mencintai tanpa harus memiliki benar adanya, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar paham tentang apa itu sejatinya itu cinta. (OL/muslimsoul)
Referensi: Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah
Ditulis ulang dari: MuslimSoul edisi 05, januari 2010 dengan judul “Cinta Tanpa Harus Memiliki”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar