Liku perjalanan hidup manusia tidak pernah bisa terduga. Pun saat ini, aku berkesempatan untuk belajar dan mewujudkan cita-cita menjadi dokter. Sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benak untuk menjadi dokter (insya Allah, amin allohumma amin) bahkan sampai akhir aku duduk di kelas 3 SMA. Sejak dulu, aku sangat benci sekali kalau ada orang ditanya tentang cita-cita, pasti kebanyakan akan menjawab, ingin jadi dokter. Pikirku, tak kreatif sekali, tak ada jawaban lain ya?
Ketika memutuskan untuk mendaftar di FK adalah pilihan yang memerlukan pemikiran yang panjang. SMA adalah waktu-waktu yang penting untuk merenungkan jurusan di universitas. Dua tahun aku yakin bahwa aku akan mengambil jurusan astronomi di salah satu wordclass university, the one and the only (hehehe,,astronomi di Indonesia kan cuma ada di situ), tapi akhirnya ragu dan bimbang dengan nasihat dari sana-sini mengenai kajian prospek menjadi seorang astronot. Masih langka, orang Indonesia yang bisa menjadi astronot, walaupun konon katanya ada segelintir orang Indonesia yang mampu menembus jajaran pegawai NASA. Sedih pastinya, aku yang sangat mengagumi segala tentang astronomi, sering sekali duduk di malam hari di jendela kamar sambil menatap langit sambil berkhayal pergi ke bulan, bekerja di sana sambil melayang-layang dan menikah di sana (lebay mode on…jangan ditiru) harus meninggalkan semuanya, termasuk kliping-kliping luar angkasaku yang sudah mencapai 3 nomor edisi terbitan (hahaha).
Di tahun terakhir SMA, aku semakin bingung, dihadapkan akan pilihan jurusan dengan minat serta bakat yang kumiliki. Aku cenderung ingin ke teknik industri, walaupun ragu, karena aku kan cewek apa mungkin masuk ke teknik? Di lain cerita, ibuku ingin aku menjadi penerusnya, menjadi guru SD. Tapi sayang aku sudah tidak berminat menjadi guru. Entah, rasanya aku tak cocok. Walaupun guru SD mungkin pekerjaan yang paling tepat, berangkat pagi-pulang siang, pasti masih banyak waktu untuk keluarga dan mengurus anak. Saat ibuku menyuruhku untuk mendaftar UM di universitas X, mengambil jurusan PGSD, aku mau saja, kujalani dengan niat berbakti untuk ibuku, tetapi jujur aku beraaat sekali. Walhasil aku tidak diterima. Hehe,senang juga, akhirnya tidak jadi guru, tapi ibuku kecewa sekali.
Singkat cerita aku mulai tertarik untuk mengambil KU, mungkin naluri ingin menolongku waktu itu muncul kuat sekali, mungkin terinspirasi akan ayahku dulu yang berjuang melawan sakitnya. Aku memutuskan mengambil pilihan itu. Walaupun jujur, kalau bercermin, aku merasa tak pantas sekali, siapa aku? Tapi alhamdulillah, aku di terima di FK Undip prodi KU melalui jalur SNMPTN.
Kembali aku sering sekali bertanya-tanya, tepatkah?pantaskah aku di sini? Seiring berjalannya waktu aku semakin menikmatinya dan mencintainya. Banyak sekali yang aku pelajari tentang cita-citaku ini, bukan hanya belajar tentang ilmu kedokteran yang bahannya seabrek itu, tapi di sini aku belajar juga ilmu Allah yang terejawantah dalam tubuh manusia, ilmu interaksi dengan orang lain, empati, disiplin, totalitas, banyaaak sekali. Aku menemui banyak orang-orang hebat, dokter umum, professor, dokter spesialis yang keren-keren prestasinya. Wah, aku terkadang ingin sekali seperti mereka. Menjadi dokter yang ”besar”. Dokter yang mampu mendengar keluhan rakyat, yang merakyat, yang ahli, yang dicintai banyak orang (amin allohumma amin).
Profesi dokter adalah profesi yang ”long life learning”, sepanjang hayat adalah terus belajar. Menghabiskan waktu dengan membaca jurnal, seminar, simposium, membaca diktat, membaca text book agar dapat menjadi dokter yang bertanggungjawab,ya, karena profesi ini bukan main-main. Profesi ini adalah berhubungan dengan nyawa manusia.
Saat aku berjalan di sepanjang lorong RS dr. Kariadi menuju perpustakaan, seringkali aku teringat akan masa-masa dulu ketika aku masih seorang anak usia 8 tahun (saat menunggui ayah di RS), aku senang sekali berjalan-jalan di lorong rumah sakit sendiri, setiap pagi, naik tangga, memutari rumah sakit, melongok-longok kamar rawat kelas III, melihat perawat dan dokter-dokter yang gagah yang berseliweran. Dan saat ini aku mengalaminya lagi, bukan de javu, ini nyata, aku sering terharu, ingin menangis, mungkin Allah telah menuliskan untukku. Indah sekali. Semoga aku bisa berjuang, maksimal...(amin)
Saat aku berjalan di lorong RSDK pun aku sering melihat ke arah bangsal Interna (ruang perawatan penyakit dalam), aku berharap kelak aku bisa menjadi dokter ahli penyakit dalam (internist). Aku tertarik sekali mempelajari Interna, namun jika kesempatan itu tidak pernah datang padaku, aku tidak akan pernah kecewa. Aku akan menjadi dokter umum saja, dokter puskesmas tepatnya, toh juga perannya tak kalah dengan internist dalam menjaga kesehatan bangsa, dan yang penting kalau menjadi dokter puskesmas, berangkat pagi-pulang siang, ideal sekali bagi seorang perempuan. Tak kan ada hak anak yang terampas oleh kesibukan ibunya.hehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar